Dilansir dari Auto Motor Und Sport, Singapura telah berencana untuk tidak lagi melanjutkan kontrak sebagai tuan rumah kompetisi balap F1. Besarnya dana yang harus dikeluarkan untuk menggelar kompetisi jet darat tersebut, disebut-sebut menjadi faktor utama pertimbangan keputusan itu.
Setelahnya Malaysia telah mengonfirmasi untuk tidak memperpanjang kontrak penyelenggaraan balap Formula 1. Alasannya adalah balapan tersebut tidak terlalu menarik dan kurang populer di Negeri Jiran.
Untuk menggelar balapan F1, Singapura dilaporkan harus merogoh kocek sebesar 150 juta dollar Amerika (sekitar Rp2 triliun) per tahunnya. Sedangkan Malaysia mengeluarkan dana hingga Rp1,3 triliun untuk menyelenggarakan balapan.
Akan tetapi, besarnya pengeluaran yang dikeluhkan kedua negara tersebut lantas dibantah oleh pimpinan F1, Bernie Ecclestone. Ia mengklaim bahwa penyelenggaraan ajang balapan F1 tetap menguntungkan.
"Lihat apa yang sudah kita lakukan untuk Singapura. Memang sebuah balapan menghabiskan banyak uang, tetapi kita juga memberikan lebih banyak uang kepada mereka," ujar Bernie mengomentari mundurnya Singapura sebagai tuan rumah F1.
"Saat ini, Singapura tidak lagi dikenal sebagai airport persinggahan untuk ke tempat lain. Kini setelah mencapai target yang mereka inginkan, mereka tidak ingin lagi bekerja sama dengan kami," lanjutnya.
Mengacu pada pernyataan pimpinan F1 tersebut, apakah Indonesia harus berusaha mewujudkan balapan F1 disamping gelaran MotoGP yang saat ini terus diupayakan?
Keinginan untuk menggelar F1 sendiri pernah diutarakan oleh Menteri Pemuda dan Olaharaga, Menpora, Imam Nahrawi. Pada 2015 lalu, pria asal Bangkalan tersebut sempat menyatakan bahwa pemerintah tengah membuka komunikasi ke penyelenggara F1, Federation Internationale de I’Automobile (FIA).
"Sekali lagi, kita ini pasar yang besar tapi kita belum menyadari pasar itu harus kita ambil, harus kita manfaatkan sehingga tidak hanya ekonomi (membaik) tapi juga muncul pebalap berprestasi," ujar Imam Nahrawi seperti dilansir dari Tribunnews.com
"Saya terus mendukung IMI (Ikatan Motor Indonesia), terutama dunia otomotif agar ini tidak hanya jadi hobi tapi ada prestasi yang kita dapat. 2019, Saya berharap F1 sudah ada di Indonesia. Ini akan terus kita lanjutkan, tolong dibantu ya," sambung Cak Imam.
Jika keinginan Menpora tersebut serius ingin dilaksanakan maka ada beberapa hal yang bisa saja menjadi keuntungan untuk Indonesia. Apa sajakah itu? Berikut INDOSPORT memberikan ulasannya.