Pagar Nusa, Wadah Pencak Silat untuk Para Santri

Senin, 5 September 2016 13:18 WIB
Editor: Galih Prasetyo
 Copyright:
Berdiri untuk perjuangan

Pagar Nusa berdiri dilatarbelakangi karena faktor politik negeri ini era 60-an. Awalnya sejumlah santri yang rajin berlatih pencak silat disatukan dalam sebuah perguruan bernama Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (GASMI) yang berdiri pada 11 Januari 1966 di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. 

Seiring perjalanan waktu, dunia persilatan di pesantren semakin surut. Hal itu disadari oleh salah satu dedengkot NU, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dari Rembang. 

Pencak silat malah digunakan oleh sejumlah petarung untuk unjuk kekuatan. Saling tawuran pun terjadi. Hal ini menimbulkan kegelisahan para kiai NU, salah satunya Kiai Syansuri Badawi dari Tebu Ireng. 

Sampai pada akhirnya, Kiai Syansuri Badawi mengeluarkan fatwa yang berbunyi: ”Pencak Silat, hukumnya boleh dipelajari asal dengan tujuan perjuangan.”

Maka pada 03 Januari 1986 berdirilah Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa. Nama Pagar Nusa sendiri diusulkan oleh Kiai Mujib Ridlwan dari Surabaya. Pagar Nusa sendiri merupakan akronim dari Pagar NU dan Bangsa. 

Organisasi ini berstatus lembaga milik Nahdlatul Ulama’ yang penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya sama sebagaimana lembaga-lembaga NU lainnya.

91