Critic Sport

Menatap Masa Depan Tunggal Putri Indonesia

Kamis, 19 Mei 2016 15:00 WIB
Editor: Joko Sedayu
 Copyright:

Indonesia melalui Pelatnas PBSI terus menempa dan membimbing atlet-atlet muda agar bisa mengibarkan bendera Merah Putih di kancah internasional. Memang bukan hal yang mudah, tetapi para pebulutangkis tersebut secara perlahan sudah menjawab tantangan tersebut.

Sebut saja juara baru All England 2016 di sektor ganda campuran, Pareveen Jordan/Debby Susanto, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang menjadi juara Malaysia Open Super Series Premier 2016, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari yang naik podium pertama di Singapura Open Super Series 2016, lalu ada jebolan PBSI, Sony Dwi Kuncoro yang kembali juara di Singapura Open Super Series 2016.

Dari sekian nama tersebut, nomor tunggal putri seakan belum bisa berbicara banyak di sepanjang tahun ini. Terlambatnya regenerasi dan ketatnya persaingan di sektor ini menjadi salah satu faktor utama tunggal putri Indonesia masih terlelap dalam tidurnya.

"Menurut saya, di tunggal putri saat ini memang regenerasinya tidak terlalu cepat seperti jaman saya dahulu. Selain itu, peta kekuatan di nomor ini sudah merata di semua negara dan persaingannya sangat ketat," tutur Yuni Kartika, salah satu mantan pebulutangkis di nomor tunggal putri.

Selain itu ada beberapa faktor yang disebut menjadi jalan terjal yang harus dilewati para pebulutangkis di nomor tunggal putri.

Lantas apa yang membuat pebulutangkis di nomor tunggal putri Indonesia ini belum bisa menunjukan taji? Apakah faktor latihan, fisik, ataupun mental menjadi salah satu hambatan yang membuat pemain muda tersebut belum menunjukan progres yang signifkan?

INDOSPORT mencoba menyajikan sejumlah catatan, pandangan dan pendapat dari mantan pebulutangkis nasional terkait masalah yang terjadi di tunggal putri.

74