Menatap Masa Depan Tunggal Putri Indonesia
Pelatnas PBSI sebagai induk cabang olahraga bulutangkis pun tidak tinggal diam menghadapi fenomena di tunggal putri. Untuk itu, para pebulutangkis muda tunggal putri pun terus digenjot dan diturunkan pada kompetisi bergengsi agar pemain bisa menimba dan mendapatkan pengalaman.
"Untuk itu pemain muda kita diturunkan ke turnamen besar, kita harapkan mereka bisa menimba ilmu dari sana dan secepatnya berkembang," tandas Yuni Kartika selaku Kabid Humas dan Sosial Media PBSI.
"Peluang ke depannya sih ada, karenanya pemain muda ikut diturunkan ke Piala Uber. Itu adalah jalan untuk mempersiapkan mereka ke depanya. Kalau melihat penampilan mereka sejauh ini, walaupun kalah tapi yang terpentuing mereka bisa tampil all out," sambung Yuni Kartika yang juga mantan pebulutangkis di tunggal putri.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Rexy Mainaky, pernah menyatakan bahwa sistem pelatihan bulutangkis saat ini harus melibatkan sport science. Hal tersebut bisa dijadikan acuan dan dasar untuk metode pelatihan agar bisa meningkatkan prestasi.
"Sekarang harus ada faktor sains untuk membuat mereka (pemain bulutangkis) siap menghasilkan prestasi lima tahun dari sekarang," ujarnya beberapa waktu lalu.
Belum konsistennya pebulutangkis tunggal putri saat ini pun mendapatkan tanggapan dari mantan juara Olimpiade 1992 di Barcelona, Susy Susanti. Wanita 45 tahun itu memberikan saran agar pemain bisa mempersiapkan dan memenajemen dirinya sendiri.
“Pemain tidak hanya butuh persiapan, tetapi juga harus kerja keras jika ingin menjadi seorang juara. Di samping latihan, mereka juga harus belajar, mencari apa yang kurang. Pemain harus tahu itu juga, tidak hanya tugas pelatih,” ujarnya saat dihubungi INDOSPORT.
“Mereka (pemain) harus sadar dan bisa bersikap profesional, kapan mereka makan, latihan, istirahat dan lainnya, harus bisa memanajemen dirinya sendiri,” tandas istri dari Alan Budikusuma itu.