Suharso Suhandinata, Anak Bos Rokok yang Jadi Diplomat Bulutangkis
Meskipun sudah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses, Suharso ternyata tidak bisa melupakan kecintaannya pada olahraga bulutangkis yang ia geluti ketika remaja. Hal itu ia buktikan dengan menjadi pimpinan PB Tangkas, salah satu klub badminton pada 1962.
Ada kisah menarik dibalik penunjukan Suharso sebagai pimpinan PB Tangkas saat itu. Pasalnya, ketika Suharso diminta menjadi pimpinan, para pendiri PB Tangkas berencana membubarkan klub yang sudah dibentuk pada 21 Februari 1951 tersebut.
Namun, karena kecintaannya pada bulutangkis, Suharso pun berani menjadi pimpinan PB Tangkas dan memindahkan pusat latihan ke daerah rumahnya di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Sejak saat itu, PB Tangkas pun berkembang menjadi klub bulutangkis yang menghasilkan nama-nama besar, diantaranya Icuk Sugiarto, Ricky Soebagdja, dan Liliyana Natsir.
Kesuksesannya menjadi pimpinan PB Tangkas pun membuat pihak PBSI menariknya menjadi salah satu anggota pengurus. Hanya dalam waktu kurun satu tahun, tapatnya 1968, Suharso pun mampu menduduki kursi Wakil Ketua Umum PBSI.
Pada 1975, ia pun diangkat menjadi anggota tetap International Badminton Federation (IBF) dan bertemu dengan Dick Sudirman yang nantinya namanya diabadikan menjadi kompetisi beregu bergengsi, Piala Sudirman.
Selama aktif di IBF, salah satu perjuangan besar yang dilakukan oleh Suharso adalah membuat olahraga bulutangkis menjadi salah satu cabor yang dipertimbangkan untuk tampil di ajang Olimpiade. Harapan itu pun akhirnya terwujud saat Olimpiade di Barcelona pada 1992 silam.