Mengenang Stanley Gouw, Pelatih Bertangan Dingin di Balik Kejayaan Magnificent Seven

Kamis, 10 Oktober 2019 16:36 WIB
Penulis: Shella Aisiyah Diva | Editor: Cosmas Bayu Agung Sadhewo
© alexmulyoto.com
Stanley Gouw (tengah) di acara ulang tahun pernikahannya yang ke-60 tahun. Copyright: © alexmulyoto.com
Stanley Gouw (tengah) di acara ulang tahun pernikahannya yang ke-60 tahun.

INDOSPORT.COM - Tahun 1970-an bisa dibilang tahun terbaik untuk dunia bulutangkis Indonesia. Bagaimana tidak, di tahun tersebut Bumi Pertiwi berada di puncak kejayaan yang luar biasa.

Bahkan di tahun 70-an dikenal sebagai lahirnya 7 pebulutangkis legendaris Indonesia yangd dikenal dengan sebutan Magnificent Seven.

Adapun tujuh pebulutangkis tersebut adalah  Rudy Hartono, Liem Swie King dan Lie Sumirat di sektor tunggal putra, juga Tjun Tjun/Johan Wahjudi dan Christian Hadinata/Ade Chandra di sektor ganda putra.

Kesuksesan Magnificent Seven sendiri terjadi di tahun 1976 dan 1979 manakala mereka berhasil memenangkan dua gelar Piala Thomas secara beruntun.

Namun dibalik kesuksesan Magnificent Seven, ternyata ada sosok pelatih bertangan dingin bernama Stanley Gouw yang berhasil membawa anak asuhnya menuju puncak tertinggi kejayaan.

Lantas siapakah sosok Stanley Gouw tersebut? Berikut portal berita INDOSPORT mengulas siapa sosok Stanley Gouw tersebut sebenarnya:

Profil Singkat

Stanley Gouw merupakan pelatih kelahiran Jakarta, 11 Juni 1929. Ia diketahui merupakan pelatih sekaligus atlet yang serbabisa, setidaknya 4 cabang olahraga yang digelutinya mulai dari renang, atletik, blutangkis dan sepak bola semuanya membuahkan prestasi memuaskan.

Usut punya usut, kegemaran Stanley pada dunia olahraga lantaran karena dirinya yang terlahir prematur, sehingga karena kondisi tubuhnya yang rentan dan lemah, dokter pun menganjurkannya untuk rajin berolahraga.

Namun ternyata, tidak hanya sekedar karena anjuran dokter, tetapi bakat alami yang dimilikinya membuat Stanley berhasil menjadi juara renang saat usianya masih 12 tahun.

Tahun 1970, Stanley kembali ke Tanah Air dan bertepatan dengan kembalinya ia, pelatih PBSI pada saat itu yakni Irsan Arifin meninggal dunia, sehingga ia pun ditunjuk menjadi pelatih PBSI.

Di tangan dinginnya, ia berhasil melahirkan dua ganda putra tangguh, yakni Christian Hadinata/Ade Chandra serta Tjun Tjun/Johan Wahyudi yang berhasil menjadi juara di berbagai turnamen bulutangkis baik era terbuka maupun kategori grup.

Tak hanya 4 pebulutangkis tersebut saja yang menjelma menjadi kekuatan Indonesia, namun pebulutangkis seperti Rudy Hartono, Liem Swie King dan Iie Sumirat juga merupakan anak didikan Stanley yang sangat sukses.

Bersinarnya Magnificent Seven

Di tangan dingin seorang Stanley Gouw, tujuh pebulutangkis Indonesia tersebut sukses meraih berbagai macam gelar bergengsi bahkan di tengah keterbatasan negara di era tersebut.

Kejuaraan Dunia Bulutangkis 1977 di Malmo, Swedia, menjadi salah satu cerita dongeng yang paling indah untuk pasangan Tjun Tjun/Wahjudi.

Tak hanya itu, kemenangan pasangan itu atas Christian Hadinata/Ade Chandra di turnamen internasional di Jakarta membuka rivalitas mereka yang semakin panas.

Kendati semakin panas, ketujuh pebulutangkis tersebut menjadi salah satu kunci keberhasilan Indonesia merebut Piala Thomas 1976 dan 1979.

Beristirahat dengan tenang

Stanley Gouw memang sudah tak ada lagi di dunia ini. Ia resmi menghembuskan napas terakhirnya pada 31 Januari 2017 lalu setelah menderita penyakit di usianya yang semakin senja.

Namun bukan berarti, segala hal yang pernah diberikannnya untuk bulutangkis Indonesia tak akan terkenang abadi. Bahkan, setelah eranya, belum ada lagi pebulutangkis yang mampu menyamai prestasi Magnificent Seven.

Kini, ia pun sudah beristirahat dengan tenang bersama dengan seluruh perjuangannya yang luar biasa dan jasa-jasanya tak akan pernah dilupakan sampai kapanpun.

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%