Menemukan Benang Merah Polemik Bulutangkis Dunia
Denmark tentunya memiliki hak untuk merasa dirugikan atas batalnya Piala Thomas dan Uber 2020. Namun, negara Asia atau peserta lainnya juga memiliki hak untuk menentukan ikut atau pun tidak ikut.
Dalam polemik ini, dibutuhkan pengertian dari masing-masing pihak. Dan dalam hal ini, BWF selaku payung organisasi yang mampu memimpin, harus mengambil keputusan terbaik.
Tentu saja tak semua kritikan dari Denmark salah. Jika harus menunggu hingga pandemi berakhir, mau sampai kapan bulutangkis akan kembali bergulir?
Olahraga lain juga perlahan sudah mulai menyesuaikan. Misal, tenis yang nyatanya sudah bisa dimainkan secara aman dengan protokol kesehatan yang ketat.
Ketakutan dari negara-negara lain memang bisa dimengerti. Tapi kita tidak bisa tetap seperti itu karena semua tengah menyesuaikan dengan kondisi global yang ada.
Dengan bulutangkis yang telah menjadi olahraga elite level dunia, solusi kelanjutan kompetisi harus secepatnya diambil agar tak mengambang berlarut-larut di akhir tahun ini.
Beruntung, hal itu disadari oleh BWF, meski belum ada tindakan. Sekjen BWF, Thomas Lund, memastikan pihaknya tidak akan menunggu sampai vaksin ditemukan baru memulai kembali kompetisi internasional kembali.
Tetapi, yang jelas, BWF akan berusaha semampunya untuk segera menyelenggarakan turnamen bulutangkis internasional dalam waktu yang tepat.
"Saya tentu tidak berharap kita harus menunggu sampai vaksin tiba. Baik demi para pemain maupun demi olahraga. Tetapi akan naif bagi kami untuk mengatakan bahwa ini bukanlah tugas yang sulit saat melakukan perjalanan antarnegara yang berbeda," pungkasnya.
Turnamen Asia Open I dan Asia Open II, merupakan salah satu solusi yang bagus dan patut diapresiasi. Dalam kasus Piala Thomas dan Denmark Open, masalah terbesar diyakini bukan soal pandemi, melainkan ketidakmampuan BWF dan penitia kompetisi meyakinkan negara-negara Asia.
Hal ini sekaligus menjadi kritikan bagi BWF untuk lebih profesional dan pro aktif dalam mendukung segala event yang diadakan oleh negara anggotanya, termasuk mempersiapkan Plan A, Plan B, bahkan Plan C jika memang dibutuhkan. Denmark sebagai tuan rumah diyakini telah memberikan yang terbaik, mereka pun pantas untuk menggerutu.