Piala AFF 2012

Geram Dua Saudara Tiri

Jumat, 30 November 2012 18:41 WIB
Editor: Staff Penulis Indosport.com
 Copyright:

Saudara tiri yang tak akur. Malaysia dan Indonesia ibarat beribu sama berayah lain. Lahir di kawasan Nusantara dengan etnis yang sama, dua negara merdeka dari penjajah berbeda. Ketidaksamaan latar sejarah kemudian menumbuhkan perbedaan-perbedaan saat masing-masing negara tumbuh membesar. Indonesia seperti abang bagi adik tiri Malaysia yang iri.

Malaya baru lahir pada 31 Agustus 1957 atau ketika Indonesia sudah hidup sebagai negara merdeka selama 12 tahun 2 minggu. Untuk urusan sepakbola, si abang lebih dulu main. Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia terbentuk pada 19 April 1930, lebih tua tiga tahun daripada Persatuan Bola Sepak Malaya. Pengalaman pertandingan internasional pun bicara lain. Tim bentukan PSSI segera bertanding pada 1934 dengan menjajah Jepang, 7-1. Tim Bola Sepak Malaya baru bertemu tim nasional negara lain pada 1953, kalah 2-3 oleh Korea Selatan. Setelah merdeka, Federasi Malaya mengundang Indonesia untuk beruji coba di Kuala Lumpur. Sejak kemenangan 4-2 pada 07 September 1957, Tim Garuda lebih sering menang. Hingga leg kedua final Piala AFF 2010, Indonesia menang 29 kali dari 66 pertandingan. Malaysia menyimpan 22 kemenangan. Dua negara berbagi hasil imbang dalam 15 pertemuan. Namun dua pertempuran di AFF Cup 2010 terasa paling panas. Beradu di partai puncak, dua negara saling mengunjungi dengan tim nasional Indonesia lebih dulu datang bertandang. Kejutan meledak di Negeri Semenanjung. Indonesia yang menjadi unggulan tenggelam dalam kubangan Kuala Lumpur. Tim Garuda kalah payah, 3-0, tanpa mampu balas. Waktu tiga hari tak cukup untuk Tim Merah-Putih menuntaskan dendam. Di Jakarta, Indonesia tuan rumah jebol lagi hingga sulit untuk mengejar ketinggalan skor agregat 4-0. Mohammad Safee bin Mohammad Sali mengoyak dada Garuda dengan meringkus Markus Horison. Gol Muhammad Nasuha dan Muhammad Ridwan terlambat untuk mengobati luka. Dua tahun berlalu, Indonesia dan Malaysia bertarung lagi di laga terakhir Grup B Piala AFF 2012. Jika menang, Garuda terbang ke semi-final dan membunuh Harimau Malaya. Tim Merah-Putih tak boleh lagi berpikir dan khawatir kalah. Kecuali si abang rela mengalah untuk menyenangkan hati adik tiri yang kerap tak tahu diri. Tapi ini sepakbola, bukan politik! "Saya tidak mau bilang ini sebagai laga balas dendam. Saya hanya ingin anak-anak sungguh-sungguh bermain," tegas Nil Maizar, pelatih tim nasional Indonesia.