Bersama La Nyalla, PSSI mencopot Erwin Budiawan, Tony Apriliani dan Roberto Rouw dari kursi anggota komite eksekutif, tahun lalu. Pemecatan membuat La Nyalla selaku ketua KPSI makin keras melawan PSSI.
PSSI menyatakan sesuai hasil kongres, La Nyalla dan ketiga rekannya harus membuat surat permintaan maaf kepada seluruh anggota.
"Sampai mati saya tak akan minta maaf. Justru mereka yang harus minta maaf. Mereka tidak melaksanakan dan menghargai hasil kongres di Bali," kata La Nyalla, Senin (17/12).
La Nyalla menghormati langkah PSSI yang berniat melakukan negosiasi ulang dalam proses penyelesaian konflik. Namun dia hanya ingin penyelesaian lewat kongres luar biasa (KLB).
“Saya sudah dengar mau ada negosiasi ulang. Itu tidak masalah. Yang kami inginkan penyelesaian konflik ini melalui KLB. Saya lelah dengan negosiasi. Kalau mau selesaikan melalui KLB," tantang La Nyalla.
Rencana pemanggilan keempat dedengkot KPSI terungkap lewat anggota exco PSSI Bob Hippy.
"Empat exco akan segera dipanggil melalui surat resmi yang kami kirim. Semua diurus oleh Sekjen PSSI Halim Mahfudz. Akan diadakan rapat exco yang dihadiri empat anggota exco terhukum," jelas Bob.
PSSI akan melaporkan hasil negosiasi dan poin-poin yang belum terselesaikan kepada Konfederasi Sepakbola Asia (AFC).
Pemecatan La Nyalla cs terjadi setelah mereka menolak sanksi Komite Etik PSSI yang mendesak mereka mengajukan permintaan maaf atas pelanggaran etika.
PSSI menilai La Nyalla dan tiga rekan melewati kewenangan dengan mengirim surat pengaduan kepada AFC dan FIFA tertanggal 14 Oktober 2011.
Dalam suratnya, La Nyalla melapor tentang kepemilikan 99 persen saham PSSI di PT Liga Indonesia yang dialihkan kepada klub-klub pada 02 Maret 2011. Dia juga mengadukan soal kompetisi dengan 24 klub.