Selasa (15/01/13), Roy Suryo menyampaikan keterangan pers pertamanya sejak menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). Pidatonya menyinggung isu besar: konflik sepakbola nasional.
Roy mengisyaratkan akan membubarkan lembaga sepakbola yang terlibat konflik bila PSSI dan KPSI tidak segera damai sebelum deadline FIFA. Menpora mengingatkan tenggat waktu sudah mepet.
“FIFA memberi kita batas waktu sampai 16 Maret. Jadi kita harus menyelesaikan masalah,” ungkap Roy Suryo, pengganti Andi Alifian Mallarangeng yang mundur karena kaitan kasus korupsi.
“Saya tidak punya kepentingan atau kaitan dengan PSSI dan KPSI. Karena itu, insya Allah, saya akan menyelesaikan masalah,” lanjut pria yang menjuluki diri sendiri sebagai ahli telematika.
Sebelum pelantikan, Roy Suryo menyatakan, masalah sepakbola Indonesia terjadi karena persaingan dua pengusaha. Tanpa menyebut nama, Roy mengatakan, semua orang tahu siapa yang dia maksud.
Konflik sepakbola bermula pada awal 2011 setelah Nurdin Halid turun dari kursi Ketua Umum PSSI. Setelah ribut berkepanjangan, kongres 09 Juli 2011 menghasilkan presiden baru, Djohar Arifin Husin.
Tapi masalah tidak selesai dan kelompok lama bereaksi. Dengan dukungan mantan Wakil Ketua Umum PSSI, Nirwan Dermawan Bakrie, Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) terbentuk.
KPSI melanjutkan kompetisi sepakbola dengan nama lama, Liga Super Indonesia (Indonesia Super League). Dengan Ketua La Nyalla Matalitti, KPSI juga membentuk tim nasional di level senior.
PSSI berencana menggulirkan Indonesian Premier League yang meneruskan Liga Primer Indonesia. Semasa Djohar belum berkuasa, LPI justru merupakan kompetisi terlarang atau breakaway league.
Dulu IPL atau LPI berjalan dengan sokongan dari Arifin Panigoro dalam bentuk konsorsium. Tapi setelah Djohar memimpin PSSI, kompetisi dan tim nasional tersendat dengan berbagai problem.
Saat ISL atau LSI sudah mulai, kompetisi PSSI belum mengawali musim. Federasi pimpinan Djohar beralasan masih menunggu klub-klub untuk bergabung di bawah payung lembaga resmi.
Di mata FIFA, cuma IPL yang sah. Namun badan sepakbola dunia meminta PSSI untuk merangkul KPSI agar Indonesia memiliki hanya satu kompetisi dan tim nasional di segala level atau kelompok umur.
Setelah beberapa kali menunda menjatuhkan sanksi, FIFA menetapkan batas waktu Maret 2013 agar PSSI menyelesaikan masalah. Bila lewat dari deadline, sanksi akan menimpa sepakbola Indonesia.