Irak v Indonesia

Garuda Cuma Jaga Malu

Rabu, 6 Februari 2013 15:12 WIB
Editor: Jhon Purba
 Copyright:

Selain Irak, Indonesia juga harus menghadapi dua raksasa Asia, yaitu China dan Arab Saudi. Tidak usah bicara tingkat dunia, untuk level Asia saja Indonesia tidak sebanding dengan calon lawan.

Tim Merah-Putih Indonesia berada di posisi 24. Iraq masuk dalam tujuh besar, Arab Saudi ke-12 dan China lebih hebat dengan merebut posisi ke-5.

Perbedaan kualitas yang mencolok membuat Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sadar diri. PSSI sudah menyerah sebelum bertanding.

PSSI mengaku kalah sebelum bertempur di Stadion Al Rashid, Dubai, Rabu malam. Tapi dengan catatan boleh kalah asal terhormat.

"Kita harus realistis, Iraq adalah tim juara. Tidak mungkin kita menang. Sekalipun kalah, kita harus kalah terhormat,” kata penanggung jawab tim Benhard Limbong, Selasa.

Pengakuan Limbong sangat masuk akal. Selain fakta peringkat di Asia, kinerja tim Indonesia sangat menyedihkan.

Melawan dua tim lokal, Garuda tidak berdaya. Squad Nil Maizar harus menerima hasil imbang dengan Pro Duta dan menanggung malu saat kalah 2-3 dari Semen Padang.

Program beruji tanding dengan memilih lawan yang mirip Irak berakhir menyesakkan. Yordania, punya tipikal permainan seperti Irak, membantai Indonesia 5-0.

Pelatih Indonesia Nil Maizar berdalih kekalahan 0-5 di Amman lebih karena faktor cuaca, adaptasi dan kelelahan yang masih mendera usai menempuh 6-7 jam perjalanan udara.

Suhu saat duel melawan Iraq nanti berkisar 20 derajat celcius. Kisaran suhu tersebut bukanlah suhu yang biasa di Indonesia.

Limbong berkata kekalahan telak dari Yordania jadi pertimbangan PSSI untuk tidak berharap menang dari Iraq.

"Kalah 0-5 lawan Yordania kebangetan. Melawan Iraq, pemain akan tampil all out," kata Limbong.

Menyadari berbagai keterbatasan, Nil meracik semua kemungkinan terbaik. Jauh sebelum duel, Nil blak-blakan mengakui timnya akan bermain bertahan sambil sekali-sekali menyerang balik.

Sikap menyerah Nil tidak ada salahnya dan ada benarnya bila melihat stok pemain. Praktis Nil tidak mendapat pasokan pemain terbaik Indonesia.

Selain Stevie Bonsapia, tidak ada pemain asal Liga Super yang bergabung. Fakta berbicara kompetisi Liga Super adalah liga paling kompetitif di Tanah Air.

Keterbatasan stok pemain sangat terasa di lini depan. Nil hanya bisa memainkan Mario Abeikop. Agung Supriyanto yang selama ini jadi andalan harus absen karena akumulasi kartu.

Kehadiran Irfan Bachdim sedikit melegakan Nil karena Irfan bisa memerankan berbagai posisi. Irfan terbilang piawai menggalang serangan dari tengah dan dalam keadaan terjepit mampu jadi striker.