Genap 53 Tahun

Collina Awasi Terus Eropa

Rabu, 13 Februari 2013 16:31 WIB
Editor: Rawan Kurniawan
 Copyright:

Pierluigi Collina meniup kencang peluit eksistensinya di lapangan sepakbola. Dia figur terbaik pada generasinya dengan merebut sebutan Wasit Terbaik Dunia enam tahun beruntun (1998-2003).

Collina amat menonjol dalam arti kiasan dan harfiah. Gelar wasit terbaik menyatu dengan tampilan tegas di lapangan dan penampilan fisiknya yang tampak unik – bermata bulat dan kepala botak.

Seperti alien, Collina seolah mengintimidasi para pemain nakal untuk patuh pada perintah dan aba-abanya. Pria berjuluk Kojak memenangi debat dengan para bintang dengan otoritas pengadil.

Penguasaannya pada situasi lapangan juga menerbitkan hormat dari para pemain. Bahasa tubuh dan mimik muka Collina yang bersih dari semua bulu pun menyiratkan sikap manusiawi seorang wasit.

Tegas kepada pemain bandel, pria kelahiran 13 Februari 1950 sekaligus pribadi terbuka untuk diskusi hangat. Peluit Collina pun membuat penonton menoleh dia sebagai bintang pertandingan penting.

Gigi Collina terkait dengan tiga final bersejarah. Saat dia mewasiti final Olimpik 1996, Nigeria muncul sebagai peraih medali emas pertama dari Afrika dengan mengandaskan tim tenar Argentina.

Dia memberi tiga menit tambahan hingga Manchester United bisa menang dramatis 2-1 di final Liga Champions 1999.  Wasit Collina telah menciptakan trauma pada kiper Bayern München, Oliver Kahn.

Setelah MU, Kahn menderita kala Jerman hancur 1-5 oleh Inggris pada 2001 saat qualifikasi Piala Dunia 2002. Puncaknya: kapten Kahn bobol oleh dua gol Ronaldo untuk Brasil di final Piala Dunia.

Tapi bagi Sang Wasit Terbaik, gol terbaik yang dia saksikan tidak tercipta di final. Collina memilih gol Ronaldinho untuk Barcelona ke gawang Chelsea di leg 2 perdelapanfinal Liga Champions 2004-2005.

“Gol yang paling mengesankan saya ialah tembakan Ronaldinho di Stamford Bridge,” kenang Collina. “Tembakan dari luar petak penalti, tak ada orang menduga. Gol itu mengejutkan semua orang.”

Musim 2004-2005 jadi kurun terakhir Collina mewasiti Liga Champions. Kini dia bertugas sebagai pengawas pertandingan, termasuk saat Galatasaray menjamu Schalke pada 21 Februari 2013.

Kunjungan ke Turki akan terlaksana sepekan setelah Pierluigi Collina merayakan usia 53 pada 13 Februari 2013. Apakah ada kado berkesan selain peluit eksistensi bagi wasit legendaris terbaik?