Genap 46 Tahun

Baggio Tetap Cinta Italia

Senin, 18 Februari 2013 23:46 WIB
Editor: Rawan Kurniawan
 Copyright:

Anak kesayangan yang luput memperoleh hadiah terbesar. Jagoan yang tidak memenangi perang namun tetap menulis kisah kepahlawan. Begitu tifosi Italia mengenang kiprah Roberto Baggio.

Penggemar sepakbola mungkin tak bisa membuat kiasan lain untuk mengingat kiprah Il Divin Codino di Italia. Dia pemenang tapi tidak juara dunia. Dia sukses di level klub tapi tak mujur di tim nasional.

Tendangan penaltinya yang melambung dari sasaran gawang Brasil di final Piala Dunia 1994 malah menancap kuat di benak sejarah. Robi Baggio menjelma ironi abadi: pemain baik yang tak berhasil.

Lantaran cedera, R. Baggio berjuang antiklimax. Drama penalti dengan Brasil seolah mengulang cerita pahit Piala Dunia 1990 di negeri sendiri kala Argentina menjegal kaki Italia di semi-final. 

Kutukan berlanjut di Prancis 1998. Bertemu tuan rumah di perempat-final, Robi memimpin eksekusi Italia tapi kegagalan rekannya menyisihkan Azzurri dan riwayat Baggio di Piala Dunia terakhirnya.

Pemain Terbaik Dunia 1993

Karena cedera kambuhan, Roberto Baggio tidak pernah bermain di Piala Eropa (1988, 1992, 1996). Tapi di level lain, di tingkat benua, buntut kuda poninya mengibaskan kenangan untuk klub.

Kapten Juventus mempersembahkan Piala UEFA 1993. Penampilan dominan Baggio selama musim 1992-1993 lantas berhadiah Bola Emas, simbol Pemain Terbaik Eropa dan gelar Terbaik Dunia 1993.

Pemuda asal kota kecil Caldogno menjadi orang Italia pertama sejak FIFA membentuk anugerah Pemain Terbaik Dunia pada 1991. Robi memetik buah yang dia semai dari remaja usia 15 tahun.

Italia menandai bakat sosok 174 cm setelah Roberto muda mendorong Vicenza juara Serie C1 dan promosi ke Serie B pada 1985. Tapi pria penganut Buddha meloncat lebih cepat dan memanjat ke lain tingkat.

Fiorentina menarik pemain dengan qualifikasi tiga posisi, yakni playmaker, midfielder dan striker, ke Serie A. Setelah dua tahun, La Viola melihat gol debut Roberto Baggio di divisi teratas Liga Italia.

10 May 1987, Napoli dengan Diego Maradona-nya merebut scudetto setelah menang di Firenze. Tapi Fiorentina mengingat hal lain, gol calon legenda tim berbaju ungu, dengan nomor sama di punggung.

Fiorentini yakin, pemakai nomor 10 Roberto Baggio ialah pemain terbaik sepanjang masa, sebelum era Gabriel Batistuta. Wajar bila tifosi marah kala klub menjual Robi ke Juventus seusai Piala Dunia.

Juventini pun kemudian kecewa ketika Il Capitano Baggio pindah ke AC Milan. Juventus mendapat pengganti bernama Alessandro Del Piero tapi Juve juga melepas legenda lain yang lebih matang.

Di AC Milan, dengan baju nomor 18, pemain kelahiran 18 Februari 1967 merebut scudetto. Baggio menjadi pemain pertama menjuarai Serie A secara beruntun untuk klub berbeda, Juve dan Milan.

Tapi sifat teguh-prinsipnya beradu lagi dengan Arrigo Sacchi yang kembali melatih Milan setelah dari tim nasional Italia. Hubungan mereka buruk sejak Sacchi menyalahkan R. Baggio di Piala Dunia 1994.

Suami Andreina Fabbri tak cocok pula dengan Fabio Capello, pelatih baru Milan yang datang dari Juventus. Si Rambut Ikal lantas memilih hijrah ke klub kecil Bologna yang memberi dia kebahagiaan lagi.

Namun hanya setahun di Bologna, Si Nomor 10 menarik minat tim Milano lain, yakni Internazionale. Pasca Piala Dunia 1998, Baggio bersatu lagi dengan Christian Vieri, plus Ronaldo Brasil, di Inter.

Tapi perseteruan dengan pelatih Marcelo Lippi mempersingkat riwayat Robi bersama Nerazzurri. The Little Buddha menepi ke klub kecil lain, Brescia, agar bisa menjaga peluang main di Piala Dunia 2002.

Cinta Italia

“Saya putuskan untuk tetap di Italia, pilih Brescia dan (pelatih Carlo) Mazzone, demi seragam Piala Dunia,” ucap sahabat Giuseppe Signori dan Dino Baggio tentang kegagalan berangkat ke Korea-Japan 2002.

Selepas pensiun di Brescia pada 2004, Baggio istirahat hingga Federasi Sepakbola Italia merekrut dia sebagai Direktur Teknik. Namun takdir tidak selalu mengakurkan dia dan urusan tim nasional.

Hanya sebentar menjabat, ayah tiga anak mundur pada 23 Januari 2013. Dia kembali ke keluarga dan merayakan usia 46 tahun sebagai figur kebanggaan dan kesayangan banyak penggemar.

Pelatih Azzurri di Piala Eropa 2000, Piala Dunia 2002 dan Euro 2004 boleh mengabaikan Robi. Tapi sampai kini, Italia malah tidak mau melupakan kisah kepahlawan Il Divin Codino, Roberto Baggio.