Juara Dunia Afrika Selatan 2010 dan Euro Ukraina-Polandia 2012 Spanyol mencukur Tahiti 10-0 dalam laga kedua Piala Konfederasi Brasil 2013.
Kemenangan bermargin besar itu ialah hasil yang terbesar sepanjang sejarah Piala Konfederasi. Sebelumnya, selisih terbesar adalah 6, yang jadi milik Brasil.
Pada Piala Konfederasi 1999, Seleção Brasil menghabisi Arab Saudi 8-2 dan saat melibas Australia 6 gol tanpa balas saat Piala Konfederasi 1997.
Fernando Torres meraup empat gol dalam laga kontra Tahiti. Seharusnya striker Chelsea itu mendapatkan 5 gol kalau penaltinya pada menit 78 melesak ke gawang Tahiti.
David Villa menoreh hattrick, sementara David Silva memborong 2 gol, dan Juan Mata melengkapi satu gol hingga membuat kemenangan Spanyol sempurna 10-0.
Uniknya, Pelatih Tahiti, Eddy Etaeta, bernapas lega. Sebelumnya, dia mengira La Roja akan menggelontorkan 20 gol ke gawang timnya.
“Kami kalah 0-10 tapi kami menawan hati publik Brasil. Jadi, obrigado, obrigados a todos,” kata Etaeta yang mengucapkan ‘terima kasih untuk semua’ dalam Bahasa Portugis.
Tahiti memang mendapat tempat tersendiri di hati publik Estádio do Maracanã, Rio de Janeiro, tempat pertandingan tersebut.
Para penonton memberi semangat kepada Tahiti dan malah memberi sorakan bernada cemoohan kepada Spanyol.
Namun Tahiti tak serta-merta menyikapi dengan jemawa. Sebelum pertandingan, Etaeta mengalungkan bunga Lei ke leher entrenador Spanyol, Vicente del Bosque.
Etaeta menyebut, melawan Spanyol adalah semacam hadiah Natal dan dia sudah memperkirakan sekitar 15 gol bakal membanjiri gawang timnya.
Para pemain Tahiti juga melakukan hal yang sama kepada masing-masing pemain Spanyol jelang kickoff. Itu merupakan budaya Tahiti untuk menunjukkan sikap persahabatan dan menghormati.
Hingga berakhirnya pertandingan, Tahiti tak mampu mengais satu gol pun, namun bisa mencuri simpati publik Maracanã.
Tim dari negara Samudera Pasifik itu mungkin merasa sudah cukup mendapatkan berkah, setelah Torres gagal mengeksekusi penalti.
Setelah bola sepakan El Niño mental dan gagal melesak ke jala, kiper Tahiti, Mikael Roche, mengepalkan tangan ke udara, meski bukan karena kemampuannya hingga penalti Torres gagal.
Mungkin, momen Roche itu merupakan gambaran kegembiraan Tahiti, negara kecil yang berpopulasi kurang dari 200 ribu jiwa. Teriakan Roche mungkin sama dengan Etaeta: Obrigado!