Tiga oknum petinggi PSMS Medan –Manajer Sarwono, Saryono, dan CEO Heru Pramono—harus menjauh dari sepakbola seumur hidup.
Kamis (22/08/13) Komisi Disiplin PSSI menghukum ketiga mantan pejabat Ayam Kinantan itu dengan sanksi tersebut. Ketiga orang itu juga terkena denda Rp100 juta.
Sarwono, Saryono, dan Heru terbukti menerima sogokan Rp75 juta, agar membuat PSMS mengalah dari PS Bangka dalam laga Divisi Utama Liga Indonesia.
Ayam Kinantan akhirnya takluk 2-3 dari PS Bangka dalam laga di Stadion Orom Sungailiat, Bangka pada 9 Juni 2013.
"Ada unsur serius yang coba memengaruhi pemain PSMS di tiga pertandingan terakhir. Pemain PSMS mengatakan kalau ciri-ciri mafia sepakbola seperti orang Malaysia,” tutur Hinca Panjaitan, Kamis (22/08/13).
“Kami tak tahu namanya dan menyebutnya sebagai oknum. Oknum itu akan dilaporkan ke AFC dan FIFA karena tidak berada dalam ruang lingkup PSSI,” lanjut Hinca lagi.
“Oknum itu menyogok Sarwono, Saryono dan Heru Pramono. Ketiga orang itu menerima uang Rp75 juta dari si oknum," tandas dia.
Kalau ketiga oknum petinggi PSMS itu menyerah, para pemain Ayam Kinantan dan Pelatih Soeharto memilih berontak. Mereka bertanding dengan sekuat tenaga meski akhirnya kalah juga.
Namun, para pemain PSMS juga harus mengantongi hukuman larangan bertanding tiga bulan dengan masa percobaan enam bulan. Dasarnya adalah menolak bertanding melawan PS Bengkulu, 6 Juni 2013.
Sekretaris PSMS mendapatkan tambahan hukuman, yakni denda Rp25 juta, selain hukuman larangan beraktivitas di sepakbola, sesuai dengan sanksi para pemain PSMS.
Penolakan berlaga itu merupakan puncak krisis finansial Ayam Kinantan. Selama 10 bulan para pemain tak menerima gaji dan akhirnya menolak bertanding kontra PS Bengkulu. PSMS pun kalah WO 0-3.