Bayern München memenangi Piala Super Eropa 2013 usai kalahkan Chelsea lewat adu penalti, 31 Agustus 2013 kemarin. Tapi hasil itu tak memuaskan Matthias Sammer, direktur sport Bayern.
“Piala Super sangat penting. Tapi masih banyak ujian di depan. Banyak kejutan yang tak bisa kami prediksi,” kata Sammer.
Dalam sebuah acara televisi pada malam ulang tahun ke-46, Sammer meminta pemain Bayern tak lengah. Sammer menunjuk hasil imbang 1-1 dengan SC Freiburg (27/08/13) sebagai contoh.
“Kehilangan 2 poin saat melawan Freiburg sangat mengganggu saya. Kami masih banyak kekurangan. Kami harus terus memperbaiki diri,” ujar pria kelahiran Dresden.
Prestasi Sammer sebagai direktur sport Bayern terbilang sukses. Sejak tiba pada Juli 2012, Sammer berhasil mengembalikan kejayaan Die Roten. Di bawah Sammer, Bayern meraih treble-winner.
Sammer mengawali karier sebagai pesepakbola saat gabung tim muda Dynamo Dreden pada 1975. Dia melakukan debut tim utama Dresden pada 1985 saat sang ayah, Klaus, menjadi pelatih.
Semula Sammer adalah seorang penyerang. Pada musim pertama, Sammer berhasil mengoleksi 8 gol.
Usai pensiun, Sammer menjadi pelatih Dortmund dan berhasil menjuarai Bundesliga pada 2001-2002. Namun satu musim kemudian Dortmund memecatnya.
Pada musim 2004-2005 Sammer melatih Stuttgart, tapi hanya bertahan satu musim. April 2006 Sammer mendapat kepercayaan jadi direktur teknik Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB).
Pada 2 Juli 2012, Bayern mengangkat Sammer sebagai direktur sport menggantikan Christian Nerlinger. Hingga kini, masih ada suara miring tentang Sammer menjadi petinggi Bayern.
Tak sedikit yang menganggap Sammer adalah orang luar. Secara tradisi München memang lebih memilih eks-pemain sendiri sebagai pejabat klub.
Lalu, apa tanggapan Sammer? “Saya tak begitu peduli. Saya ada di Bayern dan hanya seorang bawahan,” Sammer menjawab.