Laga uji coba tim nasional (timnas) Indonesia kontra Timor Leste, Minggu (29/09/13),dipastikan gagal. Kegagalan ini menjadi keempat kalinya,setelah sebelumnya dengan Hong Kong, Makau, dan Myanmar.
Jacksen F Tiago, pelatih kepala timnas Indonesia, mengaku pasrah soal kegagalan ini. Pria yang sukses bersama Persipura Jayapura sebagai kampiun LSI musim 2012-2013 pastikan rencananya berantakan,
“Sudah tak bisa berkata apapun lagi. Program yang kami susun hampir dua bulan, semuanya jadi berantakan,” ungkap pelatih berspaspor Brasil, pada Jumat (27/09/13).
Persiapan buruk yang dimiliki timnas Indonesia, tentu akan mempergaruhi peluang Indonesia kembali bersaing di penysihan Grup C Pra Piala Asia (PPA) 2015. Saat ini Timnas sebagai juru kunci tanpa poin.
Peluang Indonesia kecil untuk lolos ke putaran final di Australia dua tahun mendatang, karena minimal harus finish di posisi kedua klasemen akhir kualifikasi group.
Andai timnas Indonesia bisa memetik kemenangan menjamu Dragon Team, julukan timnas China, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada 15 Oktober nanti, persaingan terbuka.
Tiga angka dari timnas China dibutuhkan Boaz Sollosa dkk mengamankan peluang PPA 2015.,Timnas Indonesia dua kali tumbang, yakni, 0-1 dari Irak, (6/02/13), dan Arab Saudi, 2-1, (23/03/13) silam.
Nada prihatin disampaikan Benny Dollo. Bendol, sapaan akrabnya,kegagalan kesiapan tim Garuda ini amat mengganggu. Bendol pada 2001 pernah menangani timnas menuju Piala Asia 2002.
“Pengaruh besar buat Jacksen. Dia pasti sudah punya short program, medium program ataupun long program. Padahal, China ini kekuatannya hanya satu strip di atas Indonesia,” jelas Bendol.
Bendol merasakan sulitnya melawan China saat timnya diitundukkan dua kali pada kualifikasi PPA 2002. Skuat yang mengandalkan Kurniawan DJ dan Bambang Pamungkas saat itu gagal melaju ke PPA 2002.
“China memang bagus, tapi bukan istimewa. Kami kalah 1-5 di Kunming (China), karena cuaca salju. Di Jakarta, kami tumbang 0-2, karena minim persiapan. Saat itu China dilatih Bora Milutinovic,” terangnya.
Dari sisi peringkat FIFA selama 20 tahun terakhir, Indonesia di bawah ketiga tim Grup C. Indonesia memiliki peringkat terbaik 76 pada September 1998 dan saat itu lebih baik dari peringkat Irak (98).