Bagi peraih medali emas Olimpiade 2000, Candra Wijaya, tradisi Imlek adalah momentum untuk ingat jasa para leluhur.
“Imlek tidak sebatas pesta besar. Apalagi saat ini ada musibah banjir. Banyak hal positif yang dapat kita lakukan saat Imlek tahun ini untuk bantu sesama,” ujar Candra kepada INDOSPORT.
Sejak pagi, pebulutangkis kelahiran Cirebon 16 September 1975 itu tetap pada aktivitasnya, melatih anak-anak didiknya yang tergabung dalam Candra Wijaya International Badminton Center.
“Tadi pagi saya tetap melatih anak-anak didik. Setelah itu kita berdoa, dan makan-makan bareng mereka,” ucap atlet yang telah membela tim Thomas Merah-Putih satu dasawarsa, 1998-2008.
Tentunya, lanjut Candra, tradisi Imlek adalah bagi-bagi angpao, namun poin utama adalah saling menyapa dan ucapkan selamat kepada keluarga besar.
“Keluarga saya selalu tanamkan merayakan Imlek secara positif. Saling menyapa sesama keluarga. Pasti, keluarga jadi prioritas, karena saya jadi atlet berprestasi karena dukungan mereka,” jelas Candra.
Candra Wijaya besar dan tumbuh dalam keluarga bulutangkis. Ayahnya, Hendra Wijaya, mantan pemain bulutangkis sekaligus pemilik klub bulu tangkis Rajawali di Cirebon.
Kakaknya, Indra Wijaya, mantan pemain bulutangkis pernah memperkuat Tim Piala Thomas Indonesia 1996 dan 1998. Adiknya, Rendra Wijaya dan Sandrawati Wijaya juga pebulutangkis.
“Tahun ini saya tak pulang ke kampung , Cirebon, karena belum lama saya kesana. Namun tetap saling menyapa, yang muda sapa yang tua,” pungkas salah satu pemain ganda putra terbaik Indonesia.