Hal tersebut diketahui Bambang, saat ia menjadi pelatih klub PSIS Semarang beberapa waktu yang lalu.
“Sepengetahuan saya, kawan saya itu (Indra Sjafri, red) pernah kerja di kantor pos,” ungkap Bambang kepada INDOSOPORT, Minggu malam.
“Waktu itu saya melatih, saya ke kantornya di Airport dulu dia (Indra) belum melatih. Walaupun ia ngambil sertifikatnya bareng saya,” beber ia menambahkan.
Bahkan, pelatih yang pernah mengarsiteki Pelita Krakatau Steel ini mengaku bingung saat Indra terpilih menjadi pelatih Timnas U-19.
Namun, menurut pria ramah dan murah senyum ini menambahkan, Indra beruntung cepat lulus saat mengambil lisensi pelatih bersertifikat AFC serta lihai menangani pemain muda di Timnas U-19.
“Sebelumnya saya nggak tahu ia melatih klub apa saya nggak tahu. Kalau pun demikian ia punya kemampuan ketika ngelatih U-19 ternyata bagus gitu lho,” ungkap ia.
“Indra Sjafri itu kawan saya, melatihnya bareng saya, tracknya juga. Memang ketika aku ambil lisensi, ia cukup lumayan. Tapi track record ia belum teruji secara profesional,” beber ia lagi.
“Tiba-tiba melatih Timnas tahu-tahu hasilnya positif,” ungkap pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 28 Desember 1958 itu.
Bambang kembali mengatakan, gaya blusukan Indra pernah dilakukannya saat ia menjabat pelatih Timnas U-16 dan Timnas U-20. Beruntung, tambah ia, PSSI mendukung gaya Indra.
Bahkan saat itu, kata Bambang, Timnas U-16 mampu lolos ke kejuaraan Asia serta Timnas U-20 mampu menjadi juara di Brunei Darusalam dengan mengalahkan Thailand.
“Blusukan itu ada dari dulu. Makanya blusukan itu bagus. Kebetulan pengurus kali ini bagus, Indranya juga. Saya dulu mau blusukan gimana, budgetnya juga nggak ada,” kata ia lagi.
“Kalau blusukan, kita pelatih kawakan juga blusukan ke daerah-daerah. Cuman dulu, kita nggak punya dana untuk blusukan. Akhirnya kita ngambil jalan pintas tanya ke pelatih-pelatih daerah,”.
“Saya pernah mengukir prestasi untuk Timnas U-20 juara di Brunei Darusalam. Kita selama turnamen nggak kemasukan gol dan juara melawan Thailand,” tutup ia.