“Yang bisa saya katakan saat ini, sepakbola Brasil kurang bintang berkualitas. Pada 1970, jelas-jelas kami (timnas Brasil) memiliki 11 bintang di lapangan. Kami tim satu-satunya di dunia yang memiliki lima bintang ‘bernomor 10’ yang bermain bersama di lapangan,” tutur Jairzinho dalam wawancara dengan AFP.
“Tapi, sepakbola saat ini sudah berubah, lebih banyak berpola menyerang,” sambung Jairzinho lagi.
Pada PD 1970, Jairzinho yang berjuluk Angin Badai (Hurricane) mencetak tujuh gol dalam enam laga Brasil saat menjadi kampiun di Meksiko. Hingga saat ini, Jairzinho masih menjadi satu-satunya pesepakbola yang selalu mencetak gol dalam setiap laga putaran final piala dunia.
Tiga tahun lalu, Jairzinho merilis sekolah sepakbola di Rio de Janeiro utara. Kawasan padat penduduk (favela) itu dikenal sebagai ‘Jalur Gaza’. Sesuai dengan julukan, Jairzinho memberi nama Hurricane untuk sekolah sepakbola dia. Dua kali sepekan dia membina bakat-bakat belia yang ingin keluar dari kemiskinan dan membuat impian menjadi bintang lapangan jadi kenyataan.
“Saya berusaha mengembalikan sesuatu kembali ke tempat yang seharusnya dalam 20 tahun terakhir, terutama membantu mereka yang tak beruntung,” tegas Jairzinho.
Anak asuh Jairzinho berjumlah 285 orang, itu diakui sang asisten, Jorge Erias. Bakat-bakat muda itu mempertontonkan kemampuan sepakbola khas Brasil, memikat sejumlah agen yang datang, dan juga bintang Swedia 1970, Jan Olsson. Dia mengaku telah terpikat dengan talenta Fernando da Cunha Custodios, bintang masa depan berpaspor Angola.
“Saya datang ke Brasil setahun lalu untuk bermain sepakbola dan bersekolah,” tutur Fernando yang baru menginjak 16 tahun. “Saya melihat video-video Jairzinho. Dilatih oleh seorang juara dunia yang pernah diakui terbaik pada zamannya adalah sebuah kehormatan sebenarnya. Dia guru luar biasa, dia mengajar kami banyak hal dengan penuh gairah dan kesabaran.”
Fernando segera beralih sebagai pemain profesional. Jairzinho mengakui beberapa anak didiknya memang akan segera mengarah ke sisi tersebut. “Tapi, sasaran utama (sekolah sepakbola ini) adalah mendidik para lelaki dan menunjukkan kepada mereka bagaimana melayani komunitas sosial dengan penuh rasa hormat,” tandas dia.
Jairzinho mengaku masih berhubungan erat dengan Pele. “Saya bermain dalam dua Piala Dunia bersama Pele (1966, 1970) dan kami masih punya hubungan baik yang tetap kami jaga sampai sekarang. Persahabatan kami tetap erat,” tutur Jairzinho.
Ketika ditanya apakah rekor dia mencetak gol dalam setiap laga putaran final Piala Dunia akan pecah tahun ini, Jairzinho hanya berujar, “Tergantung kepada (Lionel) Messi, (Cristiano) Ronaldo, dan pencetak gol yang lain.”
Dua nama yang disebut Jairzinho bukan berasal dari Brasil. Bahkan dia tak menyebut nama Neymar, bintang Brasil yang dinilai paling bersinar dalam dekade ini. Apakah Jairzinho memang lupa atau belum mengakui kapasitas Neymar sebagai bintang di Brasil? Entahlah.