Baru lima menit duel di Vicente Calderon, tuan rumah Atletico unggul berkat Koke. Gol Koke penentu Atletico merebut satu tiket semifinal dengan kemenangan agregat 2-1, setelah skor 1-1 menjadi hasil akhir saat Barcelona menjamu Atletico, pekan lalu.
Taktik jitu versi Simeone adalah keberhasilan menerapkan permainan efektif, meski tidak mendominasi permainan. Koke dan rekan-rekannya lebih banyak mencipta peluang dibandingkan Barcelona.
Dominasi Barcelona terlihat dari beberapa statistik pertandingan. Situs UEFA dan Soccerway bahkan mencatat 64-68 persen penguasaan bola (possession). Atletico hanya punya 36-32 persen.
Kejelian Simeone mempersiapkan strategi berdasarkan perkiraan arah permainan Barcelona. Meski kalah possession, Atletico unggul melepas serangan hingga 14 kali versi UEFA. Dari 14 kesempatan, 9 serangan terarah ke gawang Barcelona.
Barcelona dalam 11 kesempatan menyerang, namun hanya 5 yang pas ke mulut gawang Atletico. Soccerway merangkum 5 serangan terarah dari Atletico, Barcelona hanya punya 3 peluang.
Rekaman pertandingan ini seolah menjadi gambaran penerapan keberhasilan Simeone memperkirakan arah jalan pertandingan di Vicente Calderon.
“Saat seseorang bekerja, seharusnya mereka bekerja. Ada saatnya Anda tak butuh banyak kata. Tak ternilai dalam sejarah pertempuran, pemenangnya bukan tim terbaik. Tapi yang punya strategi lebih baik. Kami mencoba mengalahkan Barcelona dengan seperti itu,” kata Simeone.
Barcelona yang menguasai pertandingan dan tersingkir gara-gara gol semata wayang Koke belum bisa menerima kekalahan. Gelandang Barcelona Xavi Hernandez menyesalkan kegagalan menuntaskan sejumlah peluang yang ada menjadi gol.
“Saya tidak tahu apakah Atletico layak menang. Kami punya 4 atau 5 peluang yang biasanya kami akhiri menjadi gol. Saya pikir kami layak mendapat hasil imbang dan membawa pertandingan ke perpanjangan waktu,” sesal Xavi Hernandez.
Senada dengan Xavi, Pelatih Barcelona Gerardo Martino secara jantan memuji keunggulan dan ketangguhan Atletico. Baginya Atletico pantas lolos atas Barcelona.
“Atletico lebih bagus, mereka mencetak gol. Di satu titik, kami tak bermain seperti yang kami inginkan karena cara bermain lawan. Atletico menjaga pemain di dekat penalti, mereka melakukannya dengan sangat baik. Hal itu membuat kami kesulitan mencari ruang,” jelas Martino.
Barcelona tersingkir, Atletico ke semifinal dan akan menanti lawan dari stok yang ada, yaitu Real Madrid, Bayern Muenchen dan Chelsea. Semifinal ini menjadi semifinal pertama Atletico dalam 40 tahun terakhir.
Kiprah terbaik terakhir Atletico terjadi di final Liga Champions edisi 1974. Hasil imbang 1-1 di partai final membuat Atletico harus menjalani duel ulang. Selanjutnya Atletico menyerah dan tidak kuasa menahan kekalahan 0-4 di tangan Muenchen.