Saat Brasil menggelar Piala Konfederasi tahun lalu, ratusan ribu warga Brasil turun ke jalan. Warga meminta pemerintah lebih memperhatikan pembangunan infrastruktur dan fasilitas sosial ketimbang membuang uang demi gelaran Piala Dunia 2014.
Selepas itu, berbagai aksi protes, skala kecil hingga besar, terus terjadi di kota-kota besar Brasil. Diperkirakan, aksi protes akan terus terjadi hingga Piala Dunia 2014 digelar 12 Juni-13 Juli 2014 nanti. Ini merupakan pertama kali Brasil menjadi tuan rumah sejak 1950.
Meski tak menentang aksi protes, pelatih Brasil, Luiz Felipe Scolari, mengungkapkan kekhawatirannya. Scolari cemas segala hal di luar sepak bola bisa mengganggu fokus pasukannya.
“Saya pikir, protes boleh-boleh saja. Jika mereka normal, tak merusak apapun, maka itu adalah demokrasi. Tapi saya tak tahu apakah saat ini masa yang tepat,” kata Scolari.
“Mereka adalah pemain Brasil dan memiliki misi. Mereka bisa mengatakan ingin Brasil lebih baik. Tapi saya tak ingin ada sesuatu yang malah merusak.”
Scolari menyebut, aksi protes sangat bisa berdampak kepada para pemainnya. Menurut pelatih yang pernah menangani Chelsea itu sangat cemas aksi protes akan mengganggu laga Piala Dunia, seperti saat Piala Konfederasi kemarin. Hal seperti itu dicemaskan akan mengganggu konsentrasi pemain. Buntutnya tentu berpengaruh pada penampilan pemain di atas lapangan.