Piala Dunia Brasil 2014

Demonstrasi Melanda Brasil

Jumat, 16 Mei 2014 09:48 WIB
Editor: Yusuf Abdillah
 Copyright:

Aksi unjuk rasa di Brasil terkait penggunaan dana untuk penyelenggaraan Piala Dunia 2014 sudah sering terjadi. Namun, kali ini demonstrasi semakin memburuk karena terjadi secara serentak di Belo Horizonte, Brasilia, Manaus, Porto Alegre, Rio de Janeiro, Recife, dan Sao Paulo.

Masyarakat Brasil protes kepada pemerintah karena Piala Dunia 2014 memakan anggaran negara yang sangat besar. Padahal, dana tersebut bisa untuk membantu masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

“Awalnya kami pikir itu (Piala Dunia) akan menguntungkan masyarakat, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Itulah kenapa masyarakat tidak bahagia,” ujar Pedro Amarildo (50 tahun) di Brasilia,
kepada AFP.

Dari Sao Paulo, demonstrasi terjadi sangat mencekam, sekitar 5.000 anggota Gerakan Pekerja Tunawisma (MTST) membakar ban mobil dan melakukan long march  ke Stadion Corinthians Arena, tempat pertandingan Brasil melawan Kroasia pada 12 Juni 2014 mendatang.

Pemimpin MTST, Guilherme Boulo, mengancam jika tuntutan tidak dipenuhi pemerintah Brasil, mereka akan menempatkan sekitar 1.500 keluarga untuk menduduki sebidang tanah di dekat stadion Piala Dunia 2014.

Kondisi di Brasil semakin buruk dengan aksi mogok kerja para guru dan pekerja negeri sipil. Bahkan para polisi federal mengancam akan melakukan aksi mogok nasional, yang menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya kekacauan pada Piala Dunia 2014.

Sedangkan di Rio de Janeiro, demonstrasi dilakukan tidak hanya oleh para pemuda garis keras, namun juga para pensiunan. “Saya suka sepakbola, tapi di luar itu ada masalah lain yang lebih penting, hak untuk transportasi, kesehatan, dan pendidikan,” kata Carlos Serrano (32 tahun).

Di Recife, demonstran melakukan aksi menjarah toko-toko dan melakukan perusakan di beberapa jalan kota yang mereka lalui.

Menanggapi unjuk rasa tersebut, Menteri Olahraga Brasil, Aldo Rebelo, mengatakan “tidak ada alasan untuk panik” dan membantah protes dan pemogokan ada hubungannya dengan Piala Dunia 2014. Sedangkan menurut mantan presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, demonstrasi tersebut berbau politis, karena pemilihan umum akan berlangsung pada Oktober 2014.

“Serangan-serangan terhadap acara ini menjadi semakin terlihat picik dan tidak rasional,” kata Lula da Silva.

Pemerintah Brasil dikabarkan telah menghabiskan dana sebesar 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp 125,98 triliun (kurs Rp 11.453) untuk membiayai pembangunan sarana dan prasarana Piala Dunia 2014, termasuk pembangunan stadion.