Keputusan FIFA memilih Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 mendapat pengawasan ketat menyusul tuduhan korupsi terhadap federasi sepakbola tertinggi di dunia tersebut.
Media The Sunday Times memperoleh data dokumen rahasia berupa surat, surel dan bukti transfer yang memperlihatkan sebuah bukti bahwa FIFA telah disuap oleh pejabat sepakbola Qatar yang telah diberhentikan, Mohamed Bin Hammam.
Mohamed Bin Hammam diduga membayar 5 juta US dolar (Rp 58 miliar) kepada FIFA sebagai uang suap agar Qatar terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Surel yang diterima Sunday Times memperkuat bukti bahwa Bin Hammam melakukan lobi sekitar satu tahun sebelum keputusan FIFA atas terpilihnya Qatar.
Beberapa dokumen juga menunjukkan Bin Hammam melakukan transaksi pembayaran langsung ke pejabat resmi di Afrika sebagai penyuapan agar mendukung Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Melihat tuduhan tersebut, Qatar membantah dan menegaskan bahwa Bin Hammam tidak memiliki jabatan resmi dan selalu membawa nama sendiri bukan atas nama pihak Qatar 2022.
Bin Hammam sendiri bersama Panitia Qatar 2022 juga membantah melakukan pendekatan dengan mantan wakil presiden FIFA menjelang pengumuman pada Desember 2010 silam.
Tuduhan baru ini membuat FIFA Kepala penyelidik FIFA, Michael Garcia langsung melakukan pemeriksaan atas dugaan korupsi dan kesalahan dalam keputusan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.
Dia akan melakukan pertemuan dengan para pejabat dari panitia Qatar 2022 di Oman, Senin (02/06/14) besok.
Ketua komite media dan budaya di parlemen Inggris, John Whittingdale mengatakan kepada Sky News, jika tuduhan tersebut benar, maka Presiden FIFA Sepp Blatter harus mengundurkan diri.
"Ini jelas tuduhan yang sangat serius dan hal ini perlu diteliti dengan cepat. Kegagalan Sepp Blatter selama dua tahun terakhir benar-benar membuat posisinya harus dipertanyakan,” ujar Whittingdale.
“Jika tuduhan ini terbukti benar, maka kontes negara tuan rumah 2022 tidak perlu dilihat lagi," lanjut Whittingdale.
Mr Bin Hammam adalah tokoh kontroversial di dunia sepakbola. Dia dilarang untuk hidup dari administrasi sepakbola dengan komite etika FIFA tak lama setelah kampanye gagal untuk menjadi presiden pada tahun 2011.