Isu kasus korupsi terkait pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 semakin memanas. Namun, FIFA enggan berkomentar banyak dan meminta semua pihak bersabar sampai proses penyelidikan rampung pada Senin (09/06/14).
Sekjen FIFA, Jerome Valcke, memilih untuk tidak berkomentar soal korupsi pemilihan Qatar sebagai tuan rumah PD 2022. Dia hanya melambaikan tangan dan tersenyum kepada wartawan yang menanyakan informasi korupsi tersebut.
"Tidak ada jawaban, tidak ada pertanyaan," ucap Valcke ketika menghadiri peluncuran pusat penyiaran internasional Piala Dunia (IBC) di Rio de Janeiro, Brasil.
Saat mengunjungi IBC, Valcke berhenti sebentar untuk membeli es krim. Ketika ditanyai AFP bagaimana rasanya, Valcke menjawab, "Itulah pertanyaan yang seharusnya Anda tanyakan. Rasanya enak."
Terkait kasus korupsi itu, Qatar telah membantah tudingan-tudingan surat kabar Inggris, Sunday Times, yang menyebut Mohamed bin Hammam, mantan wakil presiden FIFA dari Qatar, membayar lebih dari lima juta dolar AS atau sekitar Rp59,05 miliar (kurs Rp11.810) untuk para ofisial sepakbola di seluruh dunia, sebelum pengambilan suara pada 2010 yang membuat negara Timur Tengah itu mendapatkan hak menggelar PD 2022.
Pada Maret 2014, Valcke berkata, ia mendukung komisi investigasi yang dibentuk oleh mantan jaksa Amerika Serikat, Michael J Garcia, yang menyelidiki proses pemilihan Rusia menjadi tuan rumah PD 2018 dan Qatar untuk PD 2022.
Sedangkan, Presiden FIFA, Sepp Blatter, yang pada Senin malam waktu setempat, menemui Presiden Brasil, Dilma Rousseff, untuk presentasi trofi Piala Dunia di Brasilia, berkata pada bulan lalu, adalah sebuah kesalahan memilih Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia pada musim panas.
Blatter dan Valcke akan menghadiri Kongres FIFA di Sao Paulo pada 10 dan 11 Juni 2014, sebelum menyaksikan laga pembuka PD 2014, antara tuan rumah Brasil melawan Kroasia, di Arena de Sao Paulo, Kamis (12/06/14).