UEFA Cegah Klub Ukraina dan Rusia Bertemu

Jumat, 18 Juli 2014 02:18 WIB
Editor: Raditya Adi Nugraha
© Yuhariyanto/INDOSPORT/INTERNAT
UEFA membuat panel darurat untuk mencegah bertemunya klub asal Ukraina dengan Rusia. Copyright: © Yuhariyanto/INDOSPORT/INTERNAT
UEFA membuat panel darurat untuk mencegah bertemunya klub asal Ukraina dengan Rusia.

UEFA mengatakan bahwa panel darurat telah mengambil keputusan terhadap permintaan asosiasi-asosiasi sepak bola Ukraina dan Rusia, menjelang undian Jumat untuk kualifikasi putaran ketiga turnamen tersebut.

"Karena situasi politik saat ini, Persatuan Sepak Bola Rusia (RFS) dan Federasi Sepak Bola Ukraina (FFU) telah mengekspresikan kekhawatiran-kekhawatiran mengenai keselamatan dan keamanan seandainya tim-tim Rusia dan Ukraina bertemu satu sama lain di kompetisi UEFA," demikian pernyataan UEFA.

"Setelah mengevaluasi permintaan dan memperhitungkan situasi keselamatan dan keamanan di daerah itu, Panel Darurat UEFA memutuskan bahwa tim-tim Rusia dan Ukraina tidak dapat dipertemukan satu sama lain sampai ada pemberitahuan lebih lanjut, tambahnya.

Sebagai hasilnya, klub Rusia Zenit Saint Petersburg dan tim Ukraina Dnipro Dnipropetrovsk akan dicegah dari berada di lapangan yang sama pada undian besok.

Meski terdapat kekhawatiran-kekhawatiran mengenai krisis di Ukraina, UEFA mengatakan bahwa pihaknya telah memutuskan untuk mengizinkan pertandingan-pertandingan dimainkan di kota-kota selain ibukota Kiev dan kota barat Lviv.

Keputusan itu mempengaruhi Dnipro, kota industri yang berada di tenggara Ukraina, serta peserta Liga Europa Chornomorets, dari Odessa di barat daya, di mana tensi sedang meninggi.

Bagaimanapun, kota Donetsk tetap mendapat larangan memainkan pertandingan kompetisi UEFA.

Kota itu merupakan kandang tim kuat Shakhtar Donetsk, yang mendapat tiket otomatis ke fase grup Liga Champions.

Para separatis pro-Rusia mendeklarasikan Republik Rakyat Donetsk di kota industri tersebut pada awal April setelah menguasai gedung administratif utama.

Kekuasaan-kekuasaan di Ukraina secara bertahap telah dapat diambil alih dari para pemberontak separatis di komunitas-komunitas di sepanjang area timur, namun Donetsk tetap menjadi salah satu markas utama para pemberontak.

Ukraina, yang telah tenggelam dalam krisis ekonomi yang dalam, mendapat hantaman masalah politik pada akhir tahun lalu di tengah gelombang besar aksi protes terhadap presiden Viktor Yanukovych.

Yanukovich yang berkiblat ke Moskow akhirnya dilengserkan dari posisinya pada Februari oleh koalisi grup-grup pro-Barat dan nasionalis. Para militan pro-Rusia kemudian unjuk kekuatan.

Pada Maret, Moskow menganeksasi semenanjung selatan Ukraina yang strategis, Crimea, yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang berbahasa Rusia dan sejak lama merupakan tempat basis-basis militer Rusia.

Ketegangan meningkat antara Kiev dan Moskow, di mana Moskow menolak tuduhan bahwa pihaknya menjadi pemicu kekerasan.