Jack Wilshere adalah contoh pemain muda yang memiliki keterampilan dan teknik yang mumpuni untuk menjadi seorang pesepakbola hebat di level internasional. Sempat mendapat kritik dari Gary Neville dan Pep Guardiola, namun pemain berusia 22 tahun itu perlahan mulai bangkit seolah ingin mematahkan kritik yang ditujukan kepadanya.
Performa Wilshere yang stagnan dalam beberapa musim lalu tak terlepas dari cedera retak engkel kaki yang dideritanya pada 2012. Akibat cedera itu, pemain yang pernah meraih gelar PFA Young Player of the year 2010-2011 ini harus beristirahat selama satu musim penuh.
Namun di awal musim ini dia mulai menampilkan permainan impresif bersama Arsenal. Hal itu membuat pelatih Inggris, Roy Hodgson meliriknya kembali untuk memperkuat lini tengah The Three Lions. Hodgson mengeplot Wilshere sebagai gelandang pengendali permainan.
Selama bermain untuk klub, Wilshere selalu di plot oleh Arsene Wenger sebagai gelandang serang yang berposisi tepat di belakang striker. Namun, ketika diberi peranan baru oleh Hodgson, alumnus akademi Arsenal ini justru termotivasi untuk belajar agar dapat memberikan yang terbaik.
"Saya telah menonton rekaman pertandingan Xabi Alonso. Dia memiliki catatan jumlah umpan yang hampir mencapai 200 dalam satu pertandingan. Menonton pemain seperti dia dan Andrea Pirlo, membuat Anda belajar bagaimana mereka sangat cerdas dalam memainkan bola," ujar Whilsere.
"Memainkan peran itu sangat penting. Anda belajar bagaimana cara memainkan bola di saat yang tepat. Bagaimana mendapatkan bola dan memulai serangan. Saya menikmati peranan itu," lanjut dia.
Wilshere memainkan peranan barunya dengan baik saat Inggris melawan San Marino Jumat lalu. Tim besutan Hodgson mampu menang enam gol tanpa balas. Walau terlihat agak canggung di babak pertama, namun di babak kedua dia mulai menemukan ritme permainan dan mampu mengembangkan permainan tim.
Setelah pertandingan dia mengaku menonton rekaman dan mencermati analisis orang yang dikirimkan kepadanya. Walau masih ada beberapa kritik yang datang, tapi Wilshere mulai menyadari dirinya sudah mulai berkembang dan nyaman menempati posisi barunya tersebut dan bertekad untuk berlatih lebih keras lagi.
"Saya sudah bermain lebih baik. Semakin banyak saya belajar dari para pemain yang berposisi sama, semakin cepat aku akan belajar," tandas dia.
Wilshere merupakan bagian dari generasi baru pemain tim nasional yang menjadi harapan para penggemar sepakbola di Negeri Ratu Elizabeth yang rindu akan prestasi membanggakan. Sejak 1966, The Three Lions tidak lagi menorehkan prestasi gemilang, walau hiruk-pikuk kemegahan Premier League menyebar ke seantero dunia.