Hukuman Arema Dicabut Komdis

Kamis, 23 Oktober 2014 20:00 WIB
Editor:
© Zainal Hasan/indosport
Iwan Budianto (CEO Arema Crounus Indonesia) Copyright: © Zainal Hasan/indosport
Iwan Budianto (CEO Arema Crounus Indonesia)

CEO Arema Crounus Indonesia, Iwan Budianto, menghadiri undangan Komisi Disiplin (Komdis), Kamis (23/10/14). Iwan beserta jajaran manajemen Arema menghadiri untuk kelanjutan sidang penyalahan flare saat menjamu Persipura Jayapura.

Arema sempat terancam dijatuhi hukuman larangan menggelar pertandingan tanpa penonton. Hal ini dikarenakan ulah oknum suporter Arema yang menyalakan flare atau kembang api saat Arema menaklukan Persipura 3-0 12 Oktober silam.

Dalam pertandingan yang disaksikan langsung oleh Ketua komisi Disiplin PSSI, Hinca Panjaitan, Arema terancam dihukum menggelar penonton. Namun Hinca memberi pengecualian bila Arema berhasil menangkap pelaku penyala Flare.

Menindaklanjuti hukuman tersebut, CEO Arema Crounus, Iwan Budianto akhirnya mendatangi Komisi Disiplin di kantor PSSI, Jakarta. Dalam rapat tersebut Iawan beserta jajaran manajemen mengajukan 15 poin permohonan untuk dapat menggelar pertandingan dengan penonton.

"Hari ini kami memohon kepada Komdis terkait hukuman kami saat kala itu. Kala itu Komdis menjatuhkan hukuman tanpa penonton dengan catatan," ucap Iwan Budianto saat ditemui INDOSPORT usai sidang dengan Komisi Dispilin di kantor PSSI, Jakarta.

"Kini kita sudah dapat menemukan pelaku tersebut dan kini tengah ditangani dengan pihak kepolisian. Kami datang untuk memohon menggelar pertandingan lawan Persela nanti untuk diadakan dengan penonton," tambah Iwan.

Atas permohonan ini pun, Komisi Disiplin akhirnya mencabut keputusan tersebut dengan mengizinkan pertandingan Arema melawan Persela Lamongan dihadiri oleh penonton. Namun dengan 15 poin usulan yang diajukan pihak Arema sendiri sebagai pengganti hukuman mereka.

"Tadi kita ajukan pemohonan kepada Komdis dengan mengajukan 15 poin hukuman pengganti. Dan alhamdulillah 15 poin tersebut dipenuhi sehingga kita diperbolehkan menggelar pertandingan dengan penonton," ucap CEO Arema crounus, Iwan Budianto.

Berikut 15 poin usulan hukuman pengganti yang diajukan Arema dan disetujui oleh Komisi Disiplin.

1. Memasang spanduk raksasa anti flare sebanyak 30 buah dan disebar di seluruh Malang Raya
2. Menyebar 5000 flyer dan disebarkan di Stadion Kanjurahan 
3. Memasang dan menggelar giant flag anti rasis dan flare saat menggelar per
4. Sosialisa dan dialog dengan radio serta Tv lokal dan bertatap muka dengan Aremania minimal 1 bulan sekali.
5. Melakukan sosialisasi secara masif dengan media lokal seperti Aremagazine.
6. Memasang iklan secara masif terkait perang dengan rasisme dan flare.
7. Pemain Arema akan menggunakan kaos anti flare sebelum kick off.
8. Membentuk petugas khusus atau steward sejumlah 15 orang.
9. Melarang secara keras suporter yang menggunakan kaos bertuliskan keras dan berbau rasis.
10. Melakukan pemerikasaan secara ketat kepada penonton terkait barang bawaan makanan dan minuman.
11. Melakukan penyisiran tribun dan mengeledah stick bendera.
12. Memasang imbauan anti rasis dan flare di setiap sudut stadion.
13. Memasang imbauan anti rasis dan flare di LED parimeter.
14. Memasang imbauan anti rasis dan flare di tiket pertandingan.
15. Menggelar edukasi dengan lomba kepada anak-anak dengan tema anti rasis dan flare.

2