Aremania Tanpa Flare dan Rasialisme

Minggu, 26 Oktober 2014 20:06 WIB
Editor:
 Copyright:

Sepanjang pertandingan berlangsung, Aremania sama sekali tidak menyanyikan lagu bernada rasialisme atau ejekan ke lawan seperti laga-laga sebelumnya. Nyanyian berlirik rasial sudah diubah menjadi dukungan ke tim berjuluk Singo Edan.

"Arema...Arema Singo Edan..., Singo Edan Aremania...., sekarang Arema menang, Singo Edan jadi juara," lirik terbaru nyanyian Aremania.

"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada nawak-nawak Aremania karena bisa berubah dengan tidak ada flare, rasialisme, dan anarkis," ungkap Ketua Panpel Arema, Abdul Haris.

Perubahan sikap yang dilakukan Aremania ini, sambung Haris bukan hanya menunjukkan kepada PSSI bahwa Aremania bisa berubah. Tetapi, menurutnya bisa memberikan contoh ke seluruh suporter sepakbola di Indonesia, untuk ikut bersama-sama memerangi flare, rasialisme, dan anarkis dalam mendukung tim pujaan.

"Semoga apa yang dilakukan Aremania malam ini, bisa dilaksanakan seterusnya. Karena Aremania menjadi pioner seluruh suporter sepakbola di Indonesia," sebutnya.

Sebelum pertandingan, untuk mengingatkan suporter agar tidak menyalakan flare dan menyanyikan lagu-lagu rasial, Panpel Arema memasang spanduk disetiap pintu masuk stadion sesuai dengan hukuman pengganti dari Komdis.

Imbauan bertuliskan 'Kadit flare, kadit rasis, kadit anarkis Arema tetep mbois. REVOLUSI saatnya umak dukung Arema dengan elegan dan mbois', juga terpampang di papan LED pinggir lapangan.