Sepakbola Gajah

Indikasi Campur Tangan Mafia Sangat Kentara

Kamis, 30 Oktober 2014 13:52 WIB
Editor: Irfan Fikri
 Copyright:

Ketua Pengcab PSSI Kabupaten Sleman, Hendricus Mulyono, sangat menyayangkan ulah PSS Sleman yang secara sengaja melakukan gol bunuh diri agar timnya kalah melawan PSIS Semarang dalam lanjutan 8 Besar Divisi Utama PSSI. Kasus ini secara khusus mencoreng nama baik Sleman.

"Kasus seperti itu baru terjadi sekali ini di PSS Sleman, dan sudah mencoreng tim. Kami sangat menyayangkan dan menyesalkan pertandingan itu yang jauh dari nilai sportivitas," ucap ia.

Menurut dia, apapun sanksinya meski berat, harus dijalani, diterima dan menjadi pelajaran agar PSS Sleman dan tim sepakbola lainnya di Indonesia nantinya bisa lebih baik lagi.

Hendricus, yang merupakan tokoh dan sesepuh sepak bola DIY serta mantan manajer PSS Sleman pada era 2000-an tersebut mengatakan, selama dirinya memegang PSS Sleman beberapa tahun silam, tim pun tidak pernah melakukan sepak curang tersebut.

"Bahkan ketika ada permain yang melakukan handsball secara sengaja di pertandingan resmi, langsung dipecat oleh pengurus. Dulu sekitar 2003, kami sangat tegas," katanya.

Ia mengatakan, dari pertandingan tersebut menurutnya ada indikasi perang mafia. Kecurigaan tersebut sudah terlihat antara kedua tim, yaitu PSS Sleman dan PSIS Semarang tidak ingin memenangi laga, karena jika menjadi juara grup akan melawan Borneo FC yang sebagai runner up di grup lain, pada putaran semifinal nanti.

"Indikasi itu sudah ada. Jangan kekerasan dibalas dengan kekerasan, mafia dibalas dengan mafia," katanya.

Ia berharap, Komisi Disiplin PSSI harus mengusut kasus ini sampai ke akar-akarnya. Jangan sampai, hal ini terulang kembali dalam persepakbolaan Indonesia yang mulai banyak digemari masyarakat.

"Kasus ini harus diusut tuntas, kenapa bisa sampai terjadi. Termasuk yang melatarbelakanginya," katanya.

Seharusnya, kata dia, PSS Sleman tidak harus melakukan sepakbola gajah seperti itu.

"Semua lawan dalam kompetisi dianggap sama, dan menjunjung tinggi sportivitas. Bola itu bundar, kemenangan ditentukan dalam pertandingan. Bukan sebelum tanding, sudah tahu hasilnya," katanya.

Sebelumnya PSS Sleman saat menjamu PSIS Sleman di Lapangan Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta beberapa hari lalu, menang dengan skor 3-2. Namun, gol-gol yang tercipta tersebut dari hasil bunuh diri masing-masing tim.

Atas kemenangan itu, PSS Sleman menjadi juara grup N dengan 14 poin, sementara PSIS Semarang sebagai runner up. Keduanya lolos ke babak semifinal Divisi Utama untuk memperebutkan dua tiket promosi ke kompetisi Indonesia Super League (ISL).

PSS Sleman akan menghadapi Borneo FC, runner up grup P. Sementara, PSIS Semarang akan melawan Martapura FC juara grup P.

Namun Komdis PSSI menyatakan bahwa laga ini penuh rekayasa dan menghukum PSS Sleman dan PSIS Semarang dengan hukuman diskualifikasi dari Divisi Utama.

1