Kasus PSIS dan PSS menjadi berita di dunia setelah kedua tim memperagakan permainan sepakbola yang tidak mau menang. Kedua klub berusaha mati-matian untuk menjadi pihak yang kalah. Kasus ini diindikasikan pengaturan pertandingan atau match fixing.
“Saya harus melaporkan langsung ke AFC termasuk FIFA sebelum tanggal 17. Yang jelas kasus ini sangat serius karena menciderai sepakbola," kata Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Hinca Panjaitan.
Secara umum pemeriksaan terhadap pemain, pelatih, ofisial hingga perangkat pertandingan sudah selesai dilakukan. Komdis masih menyusun laporan hasil penyelidikan yang dilakukan.
Hinca menegaskan terkait dengan kasus yang terjadi pada pertandingan PSS Sleman melawan PSIS Semarang akan ada sekitar 30 keputusan. Keputusan ini di luar diskualifikasi bagi kedua klub di babak delapan besar Divisi Utama.
“Hitung saja. Masing-masing tim ada 11 pemain. Belum lagi ada pelatih maupun ofisial. Tunggu saja. Semuanya masih dalam proses," tegas Hinca sambil mengungkap kemungkinan pihak yang akan mendapat hukuman seumur hidup tidak boleh beraktivitas di sepakbola.
Manajer Umum PSIS Kairul Anwar menegaskan pihaknya telah menjelaskan dengan detail terkait dengan kasus menimpa timnya. Pihaknya telah melakukan penyelidikan internal di tubuh PSIS.
“Saat diperiksa, kami meminta kepada pelatih dan ofisial menjelaskan dengan detail. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Makanya kami berharap keputusan dari Komdis PSSI bisa obyektif," kata Kairul usai menjalani pemeriksaan kedua.