Tim Sembilan, Bola Liar Dalam Kongres PSSI

Minggu, 4 Januari 2015 16:55 WIB
Penulis: Riki Ilham Rafles | Editor:
© Herry Ibrahim/INDOSPORT
 Copyright: © Herry Ibrahim/INDOSPORT

Anggota PSSI yang berasal dari daerah-daerah menunjukkan resistensinya terkait keputusan Menpora, Imam Nahrawi tersebut. Mereka menganggap Menpora ingin melakukan intervensi kepada otoritas tertinggi sepakbola di tanah air.

Bahkan tak tanggung-tanggung, salah satu peserta kongres yang juga merupakan ketua umum Asosiasi Provinsi Kalimantan Timur, Yunus Husein meminta kepada Presiden Jokowi untuk mengganti Menpora.

"Saya tidak setuju dengan Menpora dan tim sembilan. Janganlah mencari nama besar melalui pengorbanan PSSI. Sebaiknya Presiden meninjau kembali kepemimpinan Menpora. Dia tidak pantas dan tidak layak," ujar Yunus dengan nada tinggi.

Penolakan akan pembentukan tim yang bertugas untuk mengevaluasi kinerja PSSI tidak hanya menjadi fokus dari peserta kongres. Ketua Komisi X DPR RI, Teuku Rifky Harsya juga menyampaikan hal yang sama.

Menurut politisi partai Demokrat tersebut pembentukan tim sembilan hanya program yang tak berguna dan menghambur-hamburkan uang negara.

"Anggaran Rp2 miliar lebih baik diberikan untuk kas PSSI agar bisa mendukung dan memperbaiki program-program mereka ke depan. Kenapa harus membentuk tim-tim lain yang mungkin malah memperkeruh keadaan," kata Rifky.

Fokus pada program pengembangan

Sebelumnya, Sekertaris Jenderal PSSI, Joko Driyono sudah memberikan tanggapan mengenai persiapan kongres dan tim sembilan. Saat itu dia mengatakan tak ada agenda dalam kongres yang dipersiapkan khusus untuk membahas tim sembilan.

Namun, resistensi para peserta kongres tidak bisa lagi ditahan. Meski begitu dia berharap isu tersebut tidak mengganggu program pengembangan yang telah dirancang oleh PSSI.

"Jangan sampai energi kita terkuras dan menghambat program football development. Makanya kami tidak ingin terlalu menanggapi hal tersebut," tutur pria yang akrab disapa Jokdri tersebut.

Lain lagi cara yang diterapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Provinsi DKI Jakarta, Gusti Randa. Dia menegur para peserta kongres yang dianggap terlalu berlebihan menanggapi isu tim sembilan. 

Menurutnya, hal itu justru mengacaukan dan membuat kongres berjalan tidak sesuai dengan agenda yang telah ditentukan.

"Sebaiknya kita tidak usah terlalu reaktif. Apalagi sampai ada usulan untuk mengganti menteri. Kita itu lebih besar dari mereka. Kalau menteri serahkan saja ke presiden, bisa saja tiga, empat, atau enam bulan ada pergantian kalau kerjanya kurang bagus," tegur dia.

2