Arema Targetkan Rp15 Miliar dari Tiket

Selasa, 13 Januari 2015 13:14 WIB
Editor: Irfan Fikri
 Copyright:

Di kompetisi Indonesian Super League (ISL), manajemen Arema berani menargetkan pendapatan dari tiket penonton lebih maksimal di musim 2015 ini. Tim berjuluk Singo Edan itu berharap pendapatan dari tiket penonton bisa mendapatkan Rp 15 miliar.

"Tiket penonton kita mentargetkan dari 19 kali laga home ISL, plus 6 kali home Copa Indonesia dan pertandingan uji coba sebesar Rp15 miliar. Asumsi average 500 juta bersih tiap pertandingan home," ungkap CEO Arema Cronus, Iwan Budianto.

Menurut pria yang karib disapa IB ini, jumlah pemasukan rata-rata sebesar Rp500 juta dalam satu pertandingan adalah target minimal manajemen.

"Itu kalau kita sandingkan pertandingan paling sepi dengan paling ramai," ucapnya.

Menurut IB, target itu bisa diraih pada musim depan karena Arema bisa bertemu dengan tim- tim papan atas, seperti Persib Bandung, Persebaya Surabaya, Persipura Jayapura dan Persija Jakarta.

"Misalnya Persipura dan Persiwa Wamena, 1,1 miliar dengan 300 juta, Berarti ketemu nominal 1,4 miliar. Itu kan average-nya 700 juta, berarti sudah di atas target. Atau Persebaya dan Perseru Serui, atau Persija dan Persiram, atau Persib dengan mana gitu," bebernya.

Apalagi Arema pernah mencapai angka maksimal dari tiket penonton saat Singo Edan berhasil meraih juara ISL musim 2009/2010. Saat itu Arema mendapat pemasukan Rp 15 miliar. \

"Kami optimis angka Rp 15 miliar Insya Allah akan tercapai, mengingat kompetisi ISL 2015 kembali menggunakan format satu wilayah," sambungnya.

Untuk sekedar diketahui, pada kompetisi ISL musim 2014 lalu dengan menggunakan format dua wilayah, manajemen tim Arema hanya mampu meraup total pemasukkan penjualan tiket (kotor) dalam 13 laga home Rp 8,72 miliar atau rata-rata Rp 670, 86 juta/laga dari total penonton 245.452 orang atau rata-rata 18.881 orang per laga.

Selain dari pemasukan tiket, Manajemen Arema juga bakal memaksimalkan pemasukan dari sektor lainnya. "Kita juga akan mengoptimalkan pemasukan dari penjualan merchandise," pungkas mantan Direktur Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) ini.

1