General Manajer Arema Cronus Ruddy Widodo mengakui manajemen Arema masih memiliki tanggungan hutang yang belum terbayarkan sejak dua musim lalu kepada sejumlah pemainnya. Ia merinci, tanggungan hutang manajemen mencapai Rp 1,3 miliar. "Itu data PT Liga juga dari kita. Utang musim ini tidak ada. Yang ada dua tahun lalu, itu bukan hanya Arema saja tapi klub lain juga banyak," ungkapnya.
Sebenarnya, Ruddy berencana membayar semua tunggakan, utamanya ke pemain dari hasil pendapatan musim lalu. Namun format ISL yang hanya setengah kompetisi di musim 2014 tidak menghasilkan pendapatan sesuai dengan perkiraan manajemen. "Sekarang posisinya 50 persen sudah diselesaikan. Tanggungan kurang sedikit, tapi dengan sistem kompetisi seperti kemarin kami ternyata tidak bisa," jelasnya.
Namun, Manajemen Arema masih punya piutang untuk menutup semua hutangnya. Ruddy mengatakan, PT LI masih berhutang miliaran rupiah dari beberapa anggaran yang seharusnya menjadi milik klub. Hutang PT LI itu berasal dari subsidi komersial dan hak siar televisi yang besarannya mencapai miliaran rupiah. Bentuknya subsidi komersial setiap tahun dan dari TV Right (hak siar televisi), ini mulai 2011 sampai 2013 belum pernah dibagi. RUPS terakhir itu 2013," urainya.
Lebih lanjut, Ruddy menuturkan, hasil RUPS 2013 menetapkan Arema berada di rating kedua setelah Persib Bandung. Dengan posisi itu, Arema berhak mendapatkan suntikan dari hak siar televisi sebanyak Rp 1,350 miliar. "Pendapatam Rp 1,350 miliar, hutang Rp 1,3 miliar, susuk itu (lebih, red)," ucapnya.
Hitung-hitungan manajemen, klub juga akan mendapatkan pendapatan sekitar Rp 1,850 juta pada RUPS di Bali akhir bulan ini."Hitung-hitungan kami ada tambahan Rp 500 juta pada saat RUPS nanti. Pembayaran hutang kita ambilkan itu. Itu kan hutang yang sudah berlalu, jadi biar cari dari PT. Liga. RUPS 2014 akhir bulan ini di Bali," sebutnya.
Kini Arema berharap PT LI segera melunasi hutang dari sejumlah piutang klub asal Malang ini. Terutama piutang yang sudah terlewatkan masanya. Bahkan, sejumlah opsi pun muncul dalam diskusi antara manajemen dengan PT LI, yakni hutang ke pemain nantinya akan langsung dibayar oleh PT LI ke pemain. "Insyalaah duit itu tidak via Arema. Kami hanya kirim nama dan data untuk dikirim ke yang bersangkutan. Ini sudah biasa. Hutang Deltras saja yang almarhum, masih dibayar oleh PT Liga, saksinya Sukadane (I Gede Sukadane) dan Purwaka (Purwaka Yudi). Mereka masih terima transferan hutang yang tertunggak," ujarnya.
Secara terpisah, salah satu mantan pemain Arema yang sampai saat ini masih belum menerima haknya berupa gaji, Munhar mengaku tak akan mempersoalkan apabila tunggakan gajinya yang mencapai lebih dari Rp 200 juta dibayar melalui PT LI. "Yang penting bagi saya adalah gaji saya bisa segera cair. Kan sudah bekerja keras, sudah banting tulang, tapi hak masih menunggak sampai sekarang," ungkapnya.
Munhar membeberkan, hutang manajemen Arema sebesar Rp 200 juta tersebut sesuai dengan data tunggakan gaji yang diberikan oleh manajemen kedirinya. Ia merinci, hutang paling besar manajemen Arema pada musim 2012 cukup banyak yakni selama enam bulan. Selanjutnya, di musim 2013 untuk tiga bulan gaji yang belum keluar. "Untuk 2014 ada tunggakan satu bulan gaji, Sudah dibayar tapi masih separuh. Kata Pak Rudy (Rudy Widodo), sisanya akan dibayar kalau punya uang. Tapi belum tahu kapan dibayar," tuturnya.
Bek tengah yang saat ini hijrah ke Persebaya memaparkan, sejumlah nama pemain lain yang senasib dengan dirinya. Diantaranya Irsyad Maulana dan Jimy Suparno. "Jimy sudah dilunasi minggu lalu, tapi saya dan Irsyad kenapa belum," tanyanya.
Kini pemain yang dijuluki Pohon Asam oleh Pelatih Arema Suharno ini, berharap haknya berupa gaji segera dilunasi oleh manajemen Arema. "Ibaratnya kerja, keringat saya sudah kering dan jadi uap berbulan-bulan tapi sampai sekarang gaji juga belum turun. Saya hanya bisa bertanya saja pada manajemen dan berharap janji mereka bisa segera ditepati," tandasnya.