Ketatnya proses verifikasi yang dilakukan BOPI tidak seperti sebelumnya. Di musim lalu, bahkan lembaga tersebut diketahui mengeluarkan rekomendasi satu hari setelah PT Liga Indonesia menyerahkan berkas-berkas persyaratan.
"Ini bukan untuk membuat BOPI menjadi super power. Lebih kepada mengoptimalkan kewenangan yang sudah ada. Karena mungkin kinerja BOPI di tahun sebelumnya belum bagus. Banyak hal, salah satunya komitmen Menpora sebelumnya juga kurang," tutur Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto.
Menanggapi kebijakan Menpora dan BOPI, rencananya PSSI dan PT LI ingin menyurati FIFA untuk melaporkan kejadian yang bisa dianggap sebagai intervensi politik pemerintah terhadap federasi.
Meski begitu, Kemenpora mengaku tidak khawatir. Mereka beralasan mengambil langkah kebijakan sesuai dengan standar aturan dari otoritas tertinggi sepakbola dunia tersebut.
"Monggo silahkan itu haknya. Mereka itu kan member of FIFA, jadi itu haknya. Tapi harus diingat apa yang kami lakukan sudah mengacu ketentuan FIFA," tegas pria yang juga menjadi salah satu anggota Tim Sembilan itu.
Hal yang menjadi resistensi klub-klub peserta ISL 2015 tak lain karena mereka merasa dirugikan dalam sisi material. Akibat penundaan selama dua pekan, pengeluaran diperkirakan akan membengkak. Itulah kenapa mereka dengan begitu keras mengecam keputusan Menpora memundurkan waktu kompetisi. Gatot menolak jika pihaknya dianggap yang paling bersalah karena menurutnya BOPI sudah mengingatkan PT LI sejak tahun lalu.
"Soal kerugian klub, kami sudah tekankan jika BOPI sudah mengingatkan PT Liga sejak April 2014. Mereka juga mengakui telah menerima surat tersebut," tuntas Gatot.