Pernyataan itu sekaligus menepis tuduhan Badan Olah Raga Profesional Indonesia (BOPI) yang menilai PBR tidak memenuhi syarat dalam menghadapi kompetisi tertinggi tanah air tersebut.
Kata dia, dari tiga persyaratan yang dikeluarkan BOPI, pihaknya telah merampungkan semuanya, seperti bebas hutang kepada para pemain dan official, legalitas klub dengan menyertakan NPWP hingga laporan perpajakan.
"Untuk poin pertama soal pelunasan tunggakan pada pemain, kami sudah melunasi semua tunggakan pada pemain dan ofisial. Soal nilainya sudah kami sebut," ujar Richie.
Terkait NPWP, Richie membantah para pemainnya tidak memilikinya. Sebab, PBR sendiri kata dia, sudah berbentuk badan hukum dengan nama PT Kreasi Performa Pasundan (KPP). "Sejak awal berdiri PBR, legalitas tim sudah ada termasuk NPWP juga sudah ada," tegasnya.
Hanya saja, untuk laporan perpajakan, pihaknya mengaku belum dapat melengkapinya, mengingat butuh waktu lama untuk mengumpulkan data laporan keuangan tim. Apalagi kompetisi 2014 baru berakhir.
Sedangkan terkait stadion, Richie mengaku timnya belum mendapatkan home base. Selain Stadion Siliwangi Bandung yang menjadi keinginan pihaknya, Stadion Patriot, yang berada di Kota Bekasi, juga ditolak PT Liga Indonesia.
"PT Liga merekomendasikan ke Stadion Si Jalak Harupat (SJH), Singaperbangsa di Karawang, dan Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Opsi GBK tidak mungkin. Yang paling rasional ke Singaperbangsa dan SJH. Tapi tidak menutup kemungkinan juga kita gunakan Lapangan Arcamanik. Tapi itu pun digunakan harus setelah PON XIX/2016 nanti. Karena pihak Dispora Jabar sudah memberi sinyal positif," kata perwakilan manajemen PBR, Richie.