Piala FA

8 Alasan Piala FA Kehilangan Daya Magisnya

Sabtu, 7 Maret 2015 18:04 WIB
Editor: Dimas Hendro Nugroho
 Copyright:

Perhelatan kompetisi Piala FA dinilai sudah tidak semegah dahulu kala, berbagai hal berikut ini dinilai sebagai penyebabnya:

1. Babak Ketiga Piala FA dimulai setelah periode tersibuk Liga Primer Inggris

Babak ketiga Piala FA dimulai di minggu pertama Januari, atau setelah klub-klub Liga Primer Inggris harus bertanding di 4 laga dalam tempo hanya 2 minggu. Para pemain utama tentunya kelelahan, sehingga para pelatih lebih memilih para pemain cadangan untuk tampil di Babak Ketiga Piala FA, otomatis laga jadi terasa anti-klimaks.

2. Babak Ketiga Piala FA adalah “bencana”

Satu-satunya laga Babak ketiga Piala FA yang menarik musim ini mungkin hanya Wimbledon vs Liverpool, sisanya macam Rochdale vs Nottingham Forest dan Derby County vs Southport, mungkin sama sekali tidak menarik perhatian, kecuali dari suporter 4 klub tersebut.

Beberapa klub besar juga sepertinya tidak menganggap serius kompetisi ini, seperti halnya Manchester City yang malah memilih melakukan tur ke Abu Dhabi hanya beberapa hari sebelum laga Piala FA, akhirnya mereka pun tersingkir secara mengejutkan setelah ditumbangkan oleh Middlesbrough.

3. Tidak adanya jatah lolos ke kualifikasi Liga Champions untuk pemenang Piala FA

Jika PSSI-nya Inggris (FA) ingin menyelamatkan kompetisi mereka ini, mungkin ada baiknya jika pemenang Piala FA dapat jatah lolos ke kualifikasi Liga Champions. Mungkin itu adalah satu-satunya cara jika ingin klub-klub raksasa Inggris memandang serius kompetisi ini.

4. Ada laga yang tidak disiarkan secara langsung di televisi

Bagaimana mungkin laga klub sebesar Chelsea bisa tidak ditayangkan di tv? Ternyata ini karena BBC, stasiun yang memiliki hak siar Piala FA, sejak awal musim telah memutuskan untuk tidak akan menyiarkan seluruh laga Bradford, yang kala itu jadi lawan The Blues, secara live. Kontrak pun sudah tidak bisa diubah, sehingga Bradford vs Chelsea terpaksa disiarkan secara tunda.

5. Kekisruhan Wembley

Tidak perlu mencapai final Piala FA jika ingin bertanding di stadion legendaris Wembley, karena FA memutuskan laga semifinal juga dihelat di stadion yang sama. FA melakukannya karena hasil penjualan tiket laga di Wembley mutlak jadi milik FA yang berarti adanya penghasilan tambahan untuk mereka.

Namun hal itu tentunya jadi kerugian tersendiri bagi 4 klub yang lolos ke semifinal, karena seharusnya mereka lah yang bisa mendapatkan penghasilan tambahan jika berkesempatan menggelar laga semifinal di stadion mereka masing-masing.

6. Tidak adanya sponsor

Salah satu penyebab FA menggelar laga semifinal di Wembley guna mendapatkan penghasilan tambahan mungkin dikarenakan tidak adanya sponsor untuk Piala FA musim ini. Sulit dipercaya FA tidak mampu menarik sponsor untuk kompetisi sebesar ini, yang baru terjadi sekali ini selama 20 tahun kebelakang. Sponsorsip memang tidak akan menambah efek magis kompetisi, tapi dana segar tentunya adalah hal yang mutlak dibutuhkan untuk menggelar kompetisi besar.

7. Penjadwalan pertandingan yang buruk

Tidak seperti Piala Liga Inggris atau Piala Capitol One, (Capitol One adalah sponsor utama Piala Liga Inggris) yang sudah berakhir awal Maret ini, Piala FA masih akan berlangsung hingga Mei, alias berbarengan dengan pekan-pekan krusial Liga Primer Inggris serta babak gugur Liga Champions dan Liga Europa. Klub-klub Inggris pun terpaksa menerapkan skala prioritas untuk mengakali hal ini, dan sepertinya kompetisi Piala FA menjadi prioritas terakhir mereka.

8. Laga ulangan dinilai membosankan

Laga ulangan memang merupakan tradisi dan ciri khas tersendiri Piala FA yang bisa membantu klub kecil untuk lolos lebih jauh, tapi pada kenyataannya ini dianggap membuang-buang waktu saja.

Di Piala FA, klub-klub kecil otomatis jadi tuan rumah laga yang hanya berlangsung sekali saja dengan sistem gugur dan tanpa sistem kandang-tandang, namun jika laga berakhir imbang maka tidak ada babak tambahan 2x15 menit dan adu penalti, tapi akan ada yang namanya “Laga Ulangan” yang dilangsungkan di kandang klub-klub besar.

Musim ini contohnya, Cambridge United berhasil susah-payah menahan imbang Manchester United dikandangnya, dan mungkin banyak penggila bola yang lebih memilih laga dilanjutkan dengan babak tambahan 2x15 dan adu penalti, namun itu tentunya tidak terjadi.

Laga ulangan pun digelar di Old Trafford yang berlangsung membosankan, United akhirnya lolos setelah menang tipis 1-0 lewat gol tunggal Juan Mata. Banyak yang bilang laga tersebut tidak berarti, buang-buang waktu dan akan segera terlupakan.

1