CEO Arema Cronus, Iwan Budianto menyatakan telah melakukan sowan kepada empat tokoh yang tahu akan sejarah Arema dan berperan besar dalam peralihan dari Bentoel ke Konsorsium.
"Dalam beberapa minggu terkahir ini, manajemen telah sowan kepada tokoh yang punya andil paling besar dalam proses peralihan dari era Bentoel ke Konsorsium, ada empat beliau yang sudah saya temui, dan keempatnya memberikan komitmen yang sama, untuk bersama membenarkan atau mencari solusi tentang legalitas Arema bisa bertanding denggan legalitas yang benar," ungkapnya.
Empat tokoh yang dimaksudnya adalah Andi Darussalam Tabusala, mantan Presiden Direktur PT Liga Indonesia; Daryoto Setiawan, Pembina Yayasan Arema; Satria Budhi Wibawa, Sekretaris Yayasan, dan Gunadi Handoko, Direktur Utama PT Arema Indonesia yang pertama.
Menurut IB, sapaan akrab Iwan Buudianto dirinya pertama kali melakukan sowan ke Andi Darussalam Tabusala, disusul ke tokoh-tokooh lainnya.
"Saya Sowan kepada bapak Andi Darussalam Tabussala, beliau saat peralihan sebagai Presiden Direktur PT Liga, beliau yang mengajak H Muhammad Nur dan lainnya. Yang kedua saya bertemu bapak Daryoto Setiawan, pada saat terjadi peralihan sebagai pembina Yayasan Arema. Yang ketiga saya bertemu dengan SBW, pada terjadi itu beliau sebagai Sekretaris Yayasan, dan yang keempat saya bertemu Gunadi Handoko selaku Direktur Utama PT Arema Indonesia," urainya.
Keempat tokoh itu berjanji akan bersama-sama dengan manajemen untuk menyelamatkan Arema Cronus supaya tak lagi terbelit dengan persoalan legalitas, seperti yangg dipermasalahkan BOPI.
"Pak Gunadi juga menyampaikan Pak Nur juga besama membenarkan melengkapi legalitas dan membenahi manajemen yang tercecer selama ini, kemudian bersama-sama berkomitmen menyelamatkan Arema. Kita ingin melengkapi syarat legalitas yang selama ini tercecer dari bagian kompetisi," jelasnya.
Bahhkan, IB juga membeberkan sejarah masa lalu Arema. "Saya cerita sejarah dahulu, Arema ini dijual oleh pemiliknya yang lama kepada PT Bentoel. Itu sejarah yang tercatat di Menkumham. Dibentuklah sebuah PT mengikuti aturan dari PT Liga. Yayasan membentuk PT, Pak Daryoto selaku pembina, M Nur sebagai ketua, Pak Rendra sebagai bendahara, Satrio Wibawa sebagai sekretaris yayasan," kata dia.
"PT membuat 14 lembar saham, 13 lembar dimiiki Yayasan Arema dan beberapa perorangan. Satu lembarnya diberikan secara cuma-cuma sebagai saham kehormatan kepada almarhum mas Lucky (Lucky Acub Zaenal) karena beliau sebagai pendiri. Di dalam proses peralihan itu, kalau yang satu lembar itu yang diperjualbelikan nilainya 7 persen, toh tidak mengurangi quorum dari 93 persen yang dimiliki yayasan," tuturnya.