Padahal kala itu Blaugrana hampir saja tidak lolos karena sudah tertinggal 1-0 dari the Blues di lewat gol indah Michael Essien di babak pertama laga yang dihelat di markas Chelsea, Stamford Bridge, tersebut. Sementara di leg pertama semifinal Liga Champions 2008/2009 itu, Barca hanya mampu bermain imbang 0-0 kontra Chelsea.
Agregat gol sama kuat 1-1, namun Barca lah yang berhak lolos ke final Liga Champions 2008/2009 melalui aturan gol kandang-tandang.
Skuad the Blues tentunya meradang. Di laga leg kedua itu empat kali insiden terjadi di kotak penalti Barca, namun tak ada satupun yang berbuah tendangan 12 pas untuk Chelsea. Gelandang Chelsea, Michael Ballack berteriak lantang seperti seorang maniak di depan wajah wasit asal Norwegia, Tom Henning Ovrebo, sementara itu striker the Blues, Didier Drogba, diakhir laga berteriak ke arah kamera yang dibawa seorang camera man ke lapangan hijau pasca laga usai: “Laga ini sebuah aib yang keterlaluan!”
Laga diatas bukanlah satu-satunya gol tandang bernilai sangat krusial. Di Liga Champions 2009/2010, Bayern Muenchen, berhasil lolos ke final setelah dua kali berhak lolos karena sistem gol kandang-tandang, yaitu di babak 16 Besar dan perempatfinal, walau akhirnya FC Hollywood kalah di laga puncak oleh Inter Milan-nya Jose Mourinho.
Sir Alex Ferguson, yang di musim 2009/10 itu masih melatih Manchester United dan jadi salah satu korban Muenchen berujar “hal seperti ini (kekalahan karena sistem gol kandang-tandang) sangatlah sulit untuk dicerna (diterima).”
Pasca kesuksesan Die Roten di musim 2009/10 itu, setidaknya ada enam lagi laga di babak gugur Liga Champions setelahnya yang ditentukan lewat sistem gol kandang-tandang, termasuk saat (lagi-lagi) Muenchen menang atas Arsenal di salah satu babak gugur Liga Champions 2012/13 dan kali ini the Bavarians berhasil mengangkat trofi di partai final unggul 2-1 atas Borussia Dortmund di laga bertajuk Der Klassiker.
Persepsi yang berkembang bahwa gol tandang kini terlalu berpihak kepada klub yang bertandang menghasilkan opini untuk meniadakannya. Ide untuk menanggalkan sistem itu telah diperdebatkan secara konsekuen September 2014 lalu di konferensi dua-hari UEFA yang digelar di Nyon, Prancis, oleh para pelatih elit.
“Nilai gol tandang terlalu besar, terlalu krusial dan tidak dapat dibenarkan lagi,” begitu argumentasi Arsene Wenger, pelatih Arsenal, sementara Ferguson, yang jadi ketua di meeting tersebut (dalam kapasitasnya sebgai duta kepelatihan UEFA) membeberkan fakta bahwa beberapa pelatih tertentu “berpikir bahwa penekanan tampil menyerang di laga kini yaitu saat bertandang (bukan saat bermain dikandang).”
Hingga kini setidaknya sudah ada 24 laga di babak gugur Liga Champions yang ditentukan lewat sistem gol kandang-tandang dan statistik menunjukkan bahwa jumlah gol di leg kedua babak gugur meningkat secara signifikan bahkan drastis.
Jumlah klub yang menang saat bertandang juga naik hingga dua kali lipat walau kemenangan tersebut tak membawa mereka lolos (sebagai contoh kalah 2-3 di kandang dan menang 1-2 saat tandang).
“Klub-klub tak lagi bermain negatif saat bertandang. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah sudah saatnya membekukan sistem gol kandang-tandang?” seorang Rafael Benitez, yang kini jadi pelatih Napoli, pernah berujar.
Peraturan ini (sistem gol kandang-tandang) telah berkembang hingga terlihat anakronistik. Lapangan yang lebih berkualitas, perjalanan tandang yang lebih mudah, serta persiapan klub yang makin profesional dan matang, membuat aturan ini kini terlalu berpihak pada tim yang melakukan laga tandang dan telah menggugurkan nilai awalnya kenapa sistem ini diciptakan.
Saat ini klub yang jadi juara di babak grup Liga Champions malah seakan dirugikan dengan tampil di kandang lawan terlebih dahulu di leg pertama dan justru memainkan laga krusial leg kedua di kandang sendiri, yang meski menguntungkan karena didukung oleh ribuan suporter klub, namun beresiko karena kebobolan gol tandang sangatlah merugikan.
Beberapa klub yang diuntungkan oleh gol tandang di Liga Champions:
- PSV Eindhoven di musim 1987/88 mengeliminasi Bordeaux di perempatfinal dan Real Madrid di semifinal.
- AC Milan di musim 1989/90 jadi juara di akhir kompetisi. Namun itu tak akan terjadi jika sebelumnya Stefano Borgonovo tidak mencetak gol tandang krusial di laga leg kedua semifinal kontra Bayern Muenchen.
- Barcelona di musim 1991/92 menyingkirkan Kaiserslautern di satu babak gugur, setelah gol Jose Mari Bakero di menit 90’ membawa mereka kalah 3-1 di laga leg kedua di kandang Kaiserslautern. Kekalahan 3-1 itu cukup untuk Barca karena mereka menang 2-0 di laga leg pertama di Camp Nou.
Beberapa klub yang dirugikan oleh gol tandang di Liga Champions:
- Bayern Muenchen di musim 1980/81 disingkirkan oleh Liverpool karena kebobolan saat bermain di kandang, lewat gol Ray Kennedy di menit 83’.
- Manchester United di musim 2001/02 tersingkir setelah melalui dua laga di babak gugur kontra Bayer Leverkusen, karena walau agregat gol sama kuat 3-3, the Red Devils tetap harus gugur karena aturan gol kandang-tandang.
- Inter Milan di musim 2002/03 apes dan harus dieliminasi oleh AC Milan setelah hanya bisa bermain imbang 0-0 saat laga leg pertama semifinal dihelat di San Siro dan kebobolan gol tandang saat bermain imbang 1-1 di leg kedua semifinal yang digelar di Giuseppe Meazza. Padahal dua laga tersebut sebenarnya berlangsung di stadion yang sama, hanya penyebutannya saja yang berbeda, tergantung siapa yang bertindak sebagai tuan rumah.
Jonathan Fadugba – Four Four Two