Alur rapi pengaturan skor pertandingan Indonesia kian lama akan terungkap. Semua stakeholder di tiap laga terlibat, mulai dari manajemen klub, panitia pelaksana pertandingan, bahkan pemain pun ikut terlibat dalam pengaturan skor. Simak saja bagaimana pengakuan AY eks pelatih Persidafon dan Gresik United
AY memaparkan bagaiamana mafia sepakbola begitu merasuk ke tiap detail pertandingan yang dilakoni Persidafon saat berlaga melawan Persiwa Wamena di 2012,
"Malam sebelum laga berlangsung, ada yang datang ke hotel dan menawarkan agar Persidafon mengalah 0-3 dan nanti diberi imbalan Rp 150 juta," kata AY seperti didapat dari hasil rekaman yang diterima INDOSPORT.
AY saat itu mengatakan ia tidak mau tawaran tersebut dan meminta orang tersebut untuk mendatangi Bupati atau manajemen yang lebih tinggi. "1 jam sebelum pertandingan orang tersebut menaikan Rp 50 juta menjadi Rp 200 juta namun saya tetap tidak mau,".
Hasil dilaga itu dimenangkan oleh Persiwa Wamena dengan skor tipis 1-0 lewat gol titik putih. Musim berikutnya, AY memimpin Gresik United pada 2013/14, kejadian sama kembali terulang. Di laga pertama, Gresik bertemu dengan Persis Solo, "Saya bahkan ditemukan langsung ke bandar, namun saya tetap ngotot ingin menang," kata AY.
Berikutnya melawan Barito, AY kembali didatangi oleh mafia mengalah. AY mendapat kabar bahwa sebelum pertandingan para official mendatangi semua pelaksana pertandingan.
"Saya bahkan sempat dilarang untuk tidak memberi instruksi di pinggir lapangan saat laga berlangsung. Itu bukan karakter saya. 90 menit saya selalu berdiri mengawasi laga berlangsung," kata AY.
AY berspekulasi dengan pelarangannya memberi instruksi di pinggir lapangan, ia merasa bahwa hampir semua manajemen tim, mulai dari assisten pelatih, pemain hingga ke pelaksana pertandingan juga terlibat,
"Ini kan seperti rangkaian, saya hanya menyambung-nyambungkan saja meski tidak memiliki bukti yang kuat," kata AY.
AY sempat melatih Persidafon di Divisi Utama dari Juni 2013 hingga Desember 2013, ia juga sepat melatih Gresik United, Persik Kediri dan Persis Solo.