“Saya membenarkan bahwa kompetisi (di Indonesia) ada Match Fixing, salah satunya pada saat saya di Purwodadi. Itu dari manajemen sampai tukang cuci baju juga tahu semua, jadi satu tim dikondisikan sama orang Malaysia. Orang Malaysia ini namanya Jawahir Saliman, dia terkenal dipanggil Mister Sam, ini orang yang merusak sepakbola Indonesia. Memang saya melakukan dengan tim, semua itu tahu,” terang mantan pelatih Persipur Purwodadi ini.
Masih menurut Gunawan, menurutnya dalam kompetisi di Divisi Utama, sebanyak 50 persen telah rusak oleh bandar-bandar judi asal Malaysia. Bahkan dia mengatakan, satu kali transaksi, timnya dapat memperoleh Rp 400 juta dari bandar yang bersangkutan.
“Memang pada saat di Purwodadi semua pemain terlibat, bandar itu langsung ke manajemen saya. Divisi Utama, 50 persen dirusak sama bandar—bandar Malaysia, saat itu Purwodadi (menerima) Rp 400 juta sekali bertanding (kalah), dan pemain mendapatkan sekitar 10-15 juta pada tahun 2013,” jelasnya lagi.
Banyaknya tim Divisi Utama yang mengalami kebangkrutan karena sudah tidak ada APBD membuat bandar-bandar asal Malaysia ini datang untuk mengejar kontrak dengan klub-klub yang tengah membutuhkan dana segar.
“Divisi Utama tahun ini banyak yang kolapse karena tidak ada APBD, akhirnya merajalela bandar-bandar itu datang melaui runner-runner (perantara). Ternyata mereka akan memberikan modal awal untuk membentuk tim, semua dimodalin dulu. Setelah pertandingan baru ada kontrak dengan mereka (bandar),” pungkas Gunawan.