Saat itu kata Rahmad Darmawan, ia langsung ditelepon oleh pihak penghubung mafia agar klub yang ia latih mau mengalah,
"Saya pernah ditelepon secara langsung ketika menangani salah satu klub Indonesia di laga Champions Asia," kata Rahmad Darmawan.
Ia menolaknya namun si penghubung itu terus menerus menghubunginya bahkan sampai lima menit sebelum laga berlangsung. "Saya tetap berpendirian untuk tidak meresponnya," kata Rahmad Darmawan.
Ditambahkan Rahmad, usai laga ia mencoba untuk melaporkan hal tersebut ke PSSI dan AFC, tak lama berselang memang kata Rahmad ada kerjasama dengan International Criminal Police namun karena bukti tidak kuat, kasus tersebut berhenti.
Menurut Rahmad, kunci dari penyelesaian match fixing terletak pada pelatih dan pemain. Jika pelatih dan pemain tidak merespon para mafia tersebut, mereka pun menjadi sulit untuk mempraktekan perbuatan kotor tersebut.
"Biar bagaimana pun juga, itu sama menjual nilai-nilai sportivitas dalam sepakbola," kata Rahmad Darmawan.