"Ada beberapa tawaran untuk melatih-tim lokal menghadapi turnamen tarkam dari beberapa daerah. Tapi, saya menikmati peran menjadi pelatih di LSA. Akademi sepakbola ini milik Pemkab Lamongan," kata Didik.
"Di LSA ini, saya hanya sementara karena kompetisi sedang berhenti akibat pertikaian para elit di Jakarta. Yah, minimal ilmu yang kami punyai saat ini bisa bermanfaat bagi pemain-pemain muda. Saya ingin Lamongan lebih banyak lagi melahirkan pemain," tambah asisten pelatih Persela Lamongan ini.
Selain sebagai asisten pelatih, Didik juga bekerja sebagai PNS Pemkab Lamongan di bagian Badan Pengelolan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD). Status PNS ini membuatnya harus mengedepankan loyalitas, termasuk dengan nyambi sebagai pelatih LSA.
Dia menjelaskan jenjang pembinaan LSA mulai U-10, U-12, U-14, dan U-16. Menurut Didik, dalam pembinaan usia muda perlu dibangun dasar yang kokoh. "Jangan sampai pembinaan usai muda terlupakan. Pemain muda perlu dibimbing ke arah positif sebelum terjun menjadi pemain profesional," ungkap pelatih yang telah mengantongi lisensi B AFC ini.
"Sebelum menapaki jenjang profesional, para pemain muda perlu memperkuat dasar-dasar bermain sepakbola. Mulai dari umpan, kontrol bola atau tanpa bola. Selain itu, perlu diperkuat juga shooting, heading hingga dribble yang baik. Jadi, nanti saat ke profesional bisa diperkaya dengan taktik dari masing-masing pelatih," ujarnya.
Didik berharap proses pembinaan pemain usia dini di Lamongan bisa dipetik oleh Persela guna mengarungi kompetisi Indonesia Super League (ISL) atau oleh tim lain. "Pemain dari LSA nantinya bisa masuk Persela senior. Hanya saja itu butuh proses dan jenjang. Butuh kesabaran dan ketelatenan untuk melatih pemain usia dini," pungkasnya.
1.2K