Suporter garis keras Malaysia, yang dikenal dengan sebutan Ultras Malaya sengaja mengacaukan laga kontra Arab Saudi pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Asia yang digelar di Stadion Shah Alam, Selasa 8 September 2015 lalu.
Kembang api dan flare dinyalakan, dan diarahkan ke lapangan. Asap membumbung menghalangi pandangan. Ada kepanikan. Laga pun dibubarkan. Saat itu Arab Saudi telah memimpin dengan skor 2-1.
Pelatih, pemain dan mantan pemain, Asosiasi Sepakbola Malaysia (FAM), bahkan AFC ramai-ramai mengecam aksi ini. Lewat akun twitter, Ultras Malaya meminta maaf. Namun mereka tak menyesal karena lewat aksi ini, mereka ingin FAM dibekukan, seperti yang terjadi di Indonesia, dan Malaysia dapat melakukan pembenahan.
"Maaf pemain, maaf publik Malaysia, maaf Arab Saudi. Tapi ini harus dilakukan," kicau Ultras Malaya.
Aksi ini sendiri dilakukan sebagai buntut kekalahan memalukan Harimau Malaya di ajang yang sama dari tim nasional Uni Emirat Arab dengan skor 10-0. Ultras Malaya mensinyalir adanya kebobrokan di tubuh FAM.
Mantan Asisten Sekjen FAM periode 1963-1980, Peter Velappan, secara tak langsung membenarkan dugaan tersebut. Dikutip dari kantor berita Bernama, dia pun meminta agar FAM mengembalikan kejayaan Malaysia seperti yang terjadi di tahun 60-70an. Namun ia juga menyayangkan tindakan Ultras sekaligus mempertanyakan prosedur keamanan sehingga kembang api dan flare dapat masuk ke lapangan.
Namun tampaknya hukuman yang diharapkan Ultras tak kesampaian. Sebab Mantan Sekjen AFC itu juga memprediksi FAM hanya akan dihukum denda karena gagal mengamankan pertandingan.
Indonesia, yang saat ini dicoret keanggotaannya dari FIFA, dan menjadi inspirasi Ultras Malaysa, dalam sudut pandang ini berada selangkah di depan Malaysia. Semoga saja pembenahan yang dilakukan membuat sepakbola Indonesia melesat meninggalkan Malaysia dan bahkan negara-negara Asia lainnya. Semoga.