Dalam babak semifinal ini, Mahaka akan mengajukan 25 nama wasit untuk dikerucutkan menjadi 10 nama yang akan memimpin pertandingan babak semifinal. Selain itu, Mahaka dengan keempat klub tersebut telah membuat kesepakatan di atas materai bahwa jika ada salah satu klub yang walk-out dalam babak semi-final akan menerima denda dari pihak penyelenggara sebesar Rp 1 miliar.
“Kalau ini (walk out) terjadi lagi, kita akan minta uang sebesar Rp 1 Miliar, dan mereka (Arema, Sriwijaya, Mitra Kukar, dan Persib) sepakat. Lalu tadi juga saya sodorkan nama wasit untuk memimpin di semifinal, supaya tidak ada komplain lagi karena wasit ini, wasit itu,” jelas Hasani di Hotel Century seusai melakukan drawing babak semifinal Piala Presiden 2015.
Selain itu Hasani juga menjelaskan bahwa WO dalam babak delapan besar Piala Presiden kemarin ada sedikit masalah karena tidak membuat komitmen dari awal. Sedangkan denda bagi Bonek FC yang mengambil langkah WO, Mahaka akan memberi hukuman minimal denda Rp 100 juta.
“Saya ambil denda itu menurut pasal yang ada di regulasi minimum Rp 100 juta, maksimum tidak ada batas. Tapi saya ambil Rp 200 juta, itu yang akan saya usulkan ke komisi disiplin untuk diputuskan kepada bonek FC. Sebenernya bisa lebih (dendanya), tapi depositnya ada sama saya Rp 200 juta, jadi ya sudah itu saja, kalau saya mau minta semua Rp 750 juta bisa saja, tapi kan kasihan,” sambungnya.
Sedangkan untuk evaluasi pertandingan antar PSM Makassar vs Mitra Kukar, dan Persib Bandung vs Pusamania Borneo FC, Hasani mengatakan pihak Mahaka akan mendenda PSM dan Persib sebesar Rp 15 juta karena ada flare di dalam lapangan.
“PSM hampir tidak ada masalah, itu lebih kepada euforia penonton yang berlebihan, di lapangan setelah pertandingan memang ada gontok-gontokan antara pemain PSM dengan Mitra di benchnya Mitra. Tapi saya lihat belum dalam kondisi perkelahian, jadi 50nya (denda Rp 50 juta) belum bisa saya buat, jadi yang saya denda lebih ke flare, atau kebakaran, hal yang sama juga terjadi di Persib, itu nilainya Rp 15 juta.”