Sriwijaya FC menerima lapang dada Persib Bandung sebagai juara Piala Presiden 2015, Laskar Wong Kito juga cukup puas dengan posisi runner up Piala Presiden.
Tapi jajaran Manajemen Sriwijaya FC masih memendam kekecewaan pada pihak Promotor Piala Presiden yang dianggap menyalahi beberapa aturan yang disepakati sejak awal.
Hal ini disampaikan Manajer SFC Robert Heri. Diutarakannya, pemainnya telah bermain maksimal. Tapi Manajemen sedikit kurang puas atas keputusan penyelenggara yang merubah aturan mendadak dibabak delapan besar.
“Sebelumnya Promotor Piala Presiden tetap menetapkan bila juara grup A harus melawan grup B, tapi karena juara grup A itu Persib dan runner up grup B itu Arema Cronous aturan itu dirubah, jadi Arema Cronous melawan Bali United dan Persib ketemu Borneo FC di babak semifinal,” jelas Robert Heri.
Hal ini jelas sudah menyalahi kesepakatan sebelumnya, muncul spekulasi berkembang bila partai puncak seakan-akan digiring antara Persib Bandung melawan Arema Cronous.
Merasa dipandang sebelah mata, pemain dan pelatih sepakat untuk bangkit dan berusaha menghancurkan ‘skenario’ itu.
Usaha pemain membuahkan hasil, karena leg pertama semifinal melawan Arema tertahan dengan skor 1-1 dan leg kedua menjadi milik Laskar Wong Ktio dengan skor 2-1 sehingga Tibo dkk lolos dengan agregat 3-2.
“Kita terima kekalahan itu, kita juga senang berada di posisi runner up, tapi kita juga merasakan banyak sekali tim dikerjai,” jelasnya.
“Sriwijaya FC berada digrup B bersama Arema, Persela Lamongan dan PSGC Ciamis. Disitu juga Sriwijaya FC banyak kendala, dengan keterlambatan pesawat, bus dan sebagainya, itu menguras tenaga pemain,” jelasnya.