Justru, Djanur-sapaan akrabnya-menilai tim asal Negeri Jiran tersebut cukup sulit ditaklukan. Terlihat dari beberapa serangan yang dilakukan anak asuhnya kerap menemui kebuntuan.
"Tidak gampang buat kami mencetak gol, meski akhirnya menang 4-1. Karena jujur, menghadapi pertandingan ini kita tidak ada persiapan. Pulang dari Jakarta (final Piala Presiden) tidak ada latihan, sore juga tadinya mau latihan tidak jadi. Makannya kita masukkan semua pemain untuk mensiasati kebugaran. Karena jujur, kondisi fisik tidak siap," ujar Djanur saat ditemui seusai pertandingan.
Pada babak pertama, Djanur mencoba melakukan spekulasi dengan menurunkan para pemain yang selama ini jarang diturunkan. Seperti menurunkan M Natshir Fadhil Mahbuby, Abdul Rahman, Dias Angga Putra, M Agung Pribadi, Jajang Sukmara, Yandi Sofyan Munawar dan Rudiyana.
Kendati menurunkan para pemain pelapis, pada laga tersebut Persib berhasil unggul 1-0 melalui gol Rudiyana tepat di menit ke-3. Namun Djanur menilai seharusnya pada babak pertama para pemain yang selama ini jarang diturunkan bisa leeding lebih dari satu gol.
"Jujur, ini salah saya. Karena selama ini saya kurang memainkan mereka. Jadi pede (percaya diri) nya kurang. Padahal kalau lebih pede, bisa lebih bervariatif dan seharusnya bisa leeding lebih dari satu gol. Seperti Rudiyana free dua kali tapi tidak masuk itu PR (pekerjaan rumah) saya untuk memoles pemain muda," katanya.
Sementara itu, Pelatih Malaysia All Stars, Nick Sham Bin Abdullah mengatakan kekalahan ini diakibatkan karena kurangnya konsentrasi. Terutama saat Persib berhasil menciptakan gol cepat tepat di menit ke-3.
"Di babak pertama memang, pemain-pemain saya terlihat kurang konsentrasi, termasuk di babak kedua. Saya melihat performa Persib lebih cantik, permainan mereka (Persib) bagus dibandingkan pasukan saya. Ini adalah satu pengalaman bagi para pemain saya. Selamat kepada tuan rumah Persib," katanya
"Pantas mereka (Persib) juara (Piala Presiden)," tandasnya.