Suporter Pecinta Sepakbola Nasional Ingin Kompetisi Bergulir

Jumat, 13 November 2015 20:52 WIB
Penulis: Devi Novitasari | Editor: Ramadhan
 Copyright:

Ade Chandra (FDSSI) yang tergabung dalam Suporter Pecinta Sepakbola Nasional tegaskan kedatangan mereka ke Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Pilihan Penyelesaian Sengketa (LKBH-PPS) Universitas Indonesia (UI), Depok, adalah untuk membuat sepakbola nasional kembali bergulir dalam ranah kompetisi.

Mereka telah jengah dengan konflik yang berkepanjangan yang telah mematikan sepakbola nasional. Sudah hampir setahun kompetisi sepakbola nasional terhenti. Tak hanya peserta dalam sepakbola, banyak pihak yang terkena imbasnya dari keadaan ini.

Sebagai pecinta sepakbola nasional yang tergabung dalam komunitas Suporter Pecinta Sepakbola Nasional, Ade Chandra menjelaskan kedatangan mereka hanyalah untuk membuat sepakbola nasional kembali bergulir dalam ranah kompetisi.

“Apa yang kami lakukan ini semua hanya untuk membuat bola bergulir lagi dalam ranah kompetisi,” papar Ade Chandra (FDSSI) kepada rekan media termasuk INDOSPORT di Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Pilihan Penyelesaian Sengketa (LKBH-PPS) Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat.

Ade menegaskan bahwa bukan urusan mereka untuk mencampuri persidangan di Mahkamah Agung apabila Menpora mengajukan kasasi atau pun ikut campur dalam urusan instruksi FIFA dan AFC saat datang ke Indonesia dengan keputusan membentuk Komite Ad-Hoc.

“Bukan urusan kami untuk mencampuri persidangan di Mahkamah Agung apabila Menpora akan ajukan kasasi, atau bukan ranah kami juga untuk ikut campur instruksi FIFA dan AFC saat datang ke Indonesia, dengan keputusan membentuk Komite Ad-Hoc,” lanjutnya.

Ade dan rekan-rekan di Suporter Pecinta Sepakbola Nasional menilai konflik yang berkepanjangan dalam tubuh sepakbola nasional berawal dari campur tangan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) bentukan Menpora yang telah bertindak sewenang-wenang.

“Akan tetapi kami paham bahwa konflik ini berawal dari campur tangan BOPI yang menurut kami telah bertindak sewenang-wenang,” jelasnya.

Kerinduan akan adanya kompetisi tentu dirasakan seluruh pecinta sepakbola tanah air. Apalagi bagi karir para pesepakbola nasional, pelatih dan perangkat pertandingan.