Lessa merasa kesal sepanjang pertandingan. Arsitek berkebangsaan Brasil tersebut merasa tak senang dengan sikap dan beberapa keputusan Wasit Dodi yang kerap mengabaikan beberapa pelanggaran yang diterima timnya. Padahal, menurut Lessa pemainnya kerap menderita akibat dilanggar, namun terabaikan oleh wasit.
"Pertandingan yang bagus, tapi berjalan keras. Wasit (Dodi Setia Permana) sering lalai melihat pelanggaran untuk pemain kami. Seharusnya dia bisa lebih adil," kata pelatih pengganti Jacksen F.Tiago tersebut usai pertandingan.
Lessa mencontohkan, salah satu kelalaian Dodi adalah keputusan memberikan hadiah penalti yang ternyata menjadi penentu kemenangan Arema. Lessa menganggap tak ada pelanggaran berat yang menimpa Kiko Insa ketika adu badan dengan Bio Paulin Pierre di menit 10 dan berujung pada hadiah penalti. Selain itu, seharusnya Bio juga tidak perlu langsung diberi kartu kuning karena masih melakukan pelanggaran pertama yang tergolong wajar.
"Untuk penalti kami memang tidak bisa menerima. Saya lihat lagi tayangan ulang dan merasa tidak ada pelanggaran berat. Pemain juga tidak merasa melakukannya," imbuhnya.
Saking kesalnya, Lessa menganggap timnya kali ini bertanding melawan sebuah tim dengan 14 pemain. Hal itu merujuk pada keberpihakan wasit yang dianggap merugikan Persipura.
"Sepak bola itu permainan 11 melawan 11 orang. Tapi, tadi kami merasa melawan tim dengan 14 pemain dan itu sungguh sulit sekali. Tidak perlu disebutkan tambahan tiga pemain lawan itu. Anda semua tahu sendiri siapa itu," Lessa menanandaskan.