Pelatih yang akrab disapa Djanur ini mengatakan kejadian yang terjadi di Sragen, Sabtu 19 Desember lalu jelas memukul para pecinta sepakbola tanah air. Bukan hanya dirasakan para suporter namun dirasakan juga oleh pelaku sepakbola baik pemain maupun pelatih.
Pasalnya, kejadian yang terjadi tepat dini hari itu menelan korban. Setidaknya dua orang bernama Eko Prasetyo dan Slamet dinyatakan tewas setelah dikeroyok oleh kelompok suporter lain.
"Sangat prihatin sekali. Kita hanya bisa berdoa semoga Almarhum diterima disisiNYA dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," ujar Djanur saat ditemui seusai memimpin sesi latihan di Lapangan Futsal, Ciujung Bandung.
Selain tewasnya dua suporter Arema, bus yang ditumpangi skuad Surabaya United juga menjadi korban keganasan para suporter lawan yang diduga Aremania.
Beruntung, tidak ada korban jiwa di kondisi tersebut. Namun sejumlah penggawa Surabaya United mengalami luka-luka akibat terkena pecahan kaca bus yang berhamburan setelah dilempari batu.
Kejadian pelemparan bus ini pernah juga dirasakan Persib Bandung saat hendak bertandang ke markas Persija Jakarta saat kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2014 lalu.
Untuk itu, Djanur berharap permusuhan ini antar suporter ini bisa diredam. Sehingga cabang olahraga nomor satu di dunia ini bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
"Ini mengingatkan kita pada kejadian ISL musim lalu (2014). Kita pernah merasakannya, dan kita berharap kejadian ini tidak terulang. Untuk suporter segeralah berdamai. Karena tidak ada manfaatnya juga ribut-ribut. Lebih enak juga nonton dengan tidak ada permusuhan. Pemain juga merasa nyaman saat melakukan pertandingan," pungkasnya.